MabdaHouse

Krisis Ideologi Parpol dan Urgensi Merekonstruksi Kesadaran Politik Umat

 

Eksistensi partai politik (parpol) dalam sebuah negara adalah keniscayaan. Idealnya, parpol hadir sebagai lokomotif perubahan, pengontrol kekuasaan, dan penyalur aspirasi rakyat yang terorganisir. Namun, apa jadinya jika parpol justru mengalami degradasi nilai dan kehilangan arah?

​Dalam artikel Afkar berjudul "Merekonstruksi Kesadaran Politik Umat", M. Iwan Januar memberikan analisis tajam mengenai kondisi perpolitikan saat ini dan menawarkan peta jalan bagi umat Islam untuk membenahi arah perjuangannya.

​Berikut adalah rangkuman poin-poin krusial yang perlu kita renungkan bersama.

1. Fenomena "Deideologisasi" dan Kelumpuhan Parpol

​Prof. Dr. Miriam Budiardjo mendefinisikan parpol sebagai kelompok terorganisir yang anggotanya memiliki orientasi, nilai, dan cita-cita yang sama. Sayangnya, realitas hari ini menunjukkan hal yang kontradiktif:

  • Hilangnya Ideologi: Banyak parpol kini mengidap "deideologisasi". Mereka bukan lagi kelompok yang diikat oleh keyakinan luhur, melainkan sekadar "gerombolan politik".
  • Pragmatisme dan Oportunisme: Parpol menjadi terbuka bagi siapa saja—termasuk pemilik modal besar—tanpa filter ideologi yang jelas. Akibatnya, parpol tersandera kepentingan cukong dan elitnya.
  • Krisis Kepercayaan: Survei Indikator Politik Indonesia (2022) menunjukkan kepercayaan publik pada parpol merosot di bawah 54%, terutama akibat maraknya kasus korupsi.

​Kondisi ini diperparah dengan partai-partai Islam yang ikut terseret arus. Demi kursi kekuasaan, koalisi dibangun bukan atas dasar kesamaan visi Islam, melainkan transaksi politik semata.

2. Membangun Wa’yu as-Siyasi (Kesadaran Politik) yang Sahih

​Untuk keluar dari jebakan pragmatisme ini, umat Islam perlu membangun kesadaran politik yang benar. Merujuk pada pemikiran Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al-Fikr al-Islaam, ada dua pilar utama kesadaran politik:

  1. Pandangan Universal (Global): Seorang Muslim tidak boleh hanya melihat politik dalam kotak nasional saja. Peristiwa global seperti kebijakan War on Terrorism AS, aliansi AUKUS, hingga persaingan AS-China di Laut China Selatan memiliki dampak langsung pada dunia Islam. Tanpa wawasan global, umat hanya akan menjadi objek penderita dari strategi asing.
  2. Sudut Pandang Khas (Zawiyah Khashshah): Kesadaran politik harus dibangun di atas landasan Islam. Segala peristiwa harus dinilai dengan kacamata syariat, bukan dengan standar asing seperti sekularisme atau sekadar moderasi yang sering kali melemahkan sikap kritis umat.

3. Kritik terhadap Ambiguitas Perjuangan

​Salah satu penyebab utama kegagalan partai politik Islam adalah ambiguitas. Sering kali, seruan Islam dicampuradukkan dengan ide-ide asing seperti demokrasi, nasionalisme-religius, atau pluralisme demi mendapatkan suara (vote-getting).

​Sikap "standar ganda" ini berbahaya karena:

  • ​Membuat umat bingung akan hakikat perjuangan Islam.
  • ​Menjadikan parpol Islam inferior di hadapan ideologi lain.
  • ​Menjebak parpol dalam koalisi dengan kelompok yang sebenarnya memusuhi nilai-nilai Islam.

​Rasulullah SAW telah mengingatkan kita:

"Tidak selayaknya seorang Mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali." (HR al-Bukhari dan Muslim).


​Umat sering kali hanya dijadikan "pendorong mobil mogok"; dipakai suaranya saat pemilu, lalu ditinggalkan kebijakannya saat berkuasa. Sudah saatnya siklus ini dihentikan.

4. Langkah Menuju Rekonstruksi Politik

​Lantas, apa yang harus dilakukan? Artikel ini menyerukan sebuah pertobatan politik dan langkah konkret:

  • Kembali pada Kemurnian: Perjuangan politik harus fokus pada pemenangan ideologi Islam, bukan sekadar memenangkan orang Islam di kursi jabatan.
  • Loyalitas Mutlak: Loyalitas hanya untuk Islam. Tolak kerja sama dengan pihak-pihak yang memusuhi atau merugikan kepentingan Islam.
  • Edukasi Umat: Tugas utama parpol Islam adalah mencerdaskan umat dengan pemahaman Islam yang jernih, tanpa kamuflase.
  • Kesabaran dan Keyakinan: Kemenangan membutuhkan kesabaran (ash-shabr). Jangan takut ditinggalkan massa karena memegang prinsip; takutlah jika Allah mencabut pertolongan-Nya karena kita menggadaikan prinsip.

Penutup

​Politik dalam Islam adalah sarana untuk melayani umat (riayah) dengan aturan Allah. Saat parpol kehilangan arah, umatlah yang harus mengambil peran untuk meluruskan kembali orientasi tersebut. Mari bangun kesadaran politik yang cerdas, global, dan berlandaskan iman.

Bagaimana menurut Anda? Apakah partai politik saat ini sudah mewakili aspirasi umat? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!

Label/Kategori: Politik Islam, Opini, Tsaqofah, Berita Umat

Hashtag: #PolitikIslam #KesadaranPolitik #Parpol #Demokrasi #UmatIslam #AnalisisPolitik

Komentar