Pendahuluan: Populisme dan Kebangkitan Isu Sosialisme
Dinamika politik Indonesia pasca-2024 menunjukkan fenomena menarik terkait gaya kepemimpinan nasional. Sebagaimana diamati oleh Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustaz Jazir, Presiden Prabowo Subianto dinilai tengah menerapkan pendekatan yang menyerupai "sosialisme" melalui pidato dan kebijakan populisnya. Langkah-langkah seperti pemotongan bonus komisaris BUMN dan narasi pro-rakyat dianggap sebagai strategi "dagangan" yang laku keras di kalangan masyarakat bawah.
Namun, apakah tren ini berhenti pada sekadar strategi politik elit? Diskusi yang lebih mendalam bersama pemerhati sosial-politik, Fier Agi Leventa, menyingkap fakta bahwa ketertarikan terhadap paham kiri (sosialisme-komunisme) di akar rumput, khususnya Gen-Z, bukan sekadar gimik politik, melainkan respons terhadap himpitan ekonomi kapitalistik.
Indikasi Kebangkitan Literatur Kiri
Fier Agi Leventa menyoroti bahwa secara historis, Indonesia memiliki basis massa kiri yang kuat, terbukti dengan posisi PKI sebagai pemenang keempat dalam Pemilu 1955 berkat dukungan buruh dan tani. Hari ini, meskipun gerakan politiknya tidak terlihat secara formal, penetrasi ideologinya terasa melalui literatur.
Buku Madilog karya Tan Malaka, misalnya, tercatat terjual hingga 150.000 eksemplar dari satu penerbit saja. Di pusat-pusat perbukuan mahasiswa seperti kawasan "Shopping" Taman Pintar Yogyakarta, buku-buku berhaluan kiri—mulai dari yang moderat hingga karya ekstrem tokoh PKI—tersedia dengan harga murah dan diminati mahasiswa.
Mengapa Gen-Z "Belok Kiri"?
Fenomena ini dipicu oleh trust issue atau krisis kepercayaan yang akut terhadap pemerintah dan sistem yang berjalan.
Kegagalan Negara: Ketidakhadiran negara dalam menyelesaikan masalah rakyat, seperti kemiskinan dan pengangguran, membuat masyarakat mencari alternatif.
Antitesis Kapitalisme: Di tengah himpitan hidup, sosialisme hadir menawarkan narasi pemerataan dan perlawanan terhadap kepemilikan pribadi (privat) yang dianggap sebagai akar ketimpangan.
Peran Influencer: Narasi-narasi kiri kini dikemas menarik oleh influencer di media sosial, mendapatkan atensi tinggi (high views) dari anak muda yang sedang mencari identitas perlawanan.
Bahaya Fundamental: Materialisme dan Sekularisasi
Meskipun tampak sebagai solusi ekonomi, Fier mengingatkan bahaya laten dari adopsi pemikiran sosialisme bagi seorang Muslim. Bahaya utamanya terletak pada landasan filosofis Materialisme Dialektika.
Paham ini menafikan eksistensi di luar materi (metafisika/ketuhanan). Seseorang mungkin tetap shalat dan puasa (saleh secara ritual), namun dalam memandang persoalan politik, ekonomi, dan sosial, ia menolak peran wahyu. Mereka akan berargumen bahwa masalah kemiskinan harus diselesaikan murni dengan analisis struktural materialis, tanpa merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah. Ini adalah bentuk sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik.
Fakta Kegagalan Sejarah
Secara historis, janji surga sosialisme kerap berakhir menjadi neraka kemanusiaan. Fier memaparkan data kelam korban jiwa akibat revolusi komunis di berbagai negara:
Uni Soviet: Sekitar 60-70 juta jiwa.
China (Mao Zedong): Lebih dari 30 juta jiwa.
Kamboja (Pol Pot): Sekitar 3 juta jiwa.
Negara-negara yang tersisa saat ini, seperti Korea Utara, hanyalah "fosil purba". Sementara negara sosialis lain secara ekonomi telah menyerah dan mengadopsi pasar bebas kapitalisme demi bertahan hidup. Mengadopsi sistem ini di Indonesia ibarat "keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut singa"—berpindah dari kejamnya kapitalisme menuju sistem yang terbukti gagal dan berdarah.
Jalan Ketiga: Islam sebagai Solusi Sistemik
Lantas, kemana arah perubahan harus dituju? Fier menegaskan, jawabannya bukan "Kiri" (Sosialisme) atau "Kanan" (Kapitalisme), melainkan "Lurus" (Islam).
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah kemampuan para intelektual dan pendakwah Muslim untuk memvisualisasikan Islam bukan sekadar nasihat penenang hati, melainkan sebagai sistem solusi (problem solver). Mimbar Jumat, kajian akademik, dan konten media sosial harus dipenuhi dengan agitasi intelektual yang menjelaskan bagaimana Syariat Islam menjawab problem kemiskinan, distribusi kekayaan, dan politik negara.
Jika umat Islam gagal menyajikan Islam sebagai ideologi pembebas yang rasional dan aplikatif, maka generasi muda yang frustrasi akan terus berpaling pada narasi kiri.
Daftar Rujukan dan Narasumber
Narasumber Utama:
Fier Agi Leventa (Pemerhati Sosial-Politik & Aktivis Dakwah).
Ustaz Muhammad Jazir (Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta).
Sumber Referensi:
Transkrip Wawancara Lava News: "Diskusi Sosialisme, Gen-Z, dan Arah Politik Prabowo" (4 November 2025).
Data Historis Pemilu 1955 (Posisi PKI dan PNI).
Data Penjualan Buku Madilog (Narasi Books/Penerbit Terkait).
Data Korban Jiwa Rezim Komunis (Referensi: The Black Book of Communism / Sejarah Global).
Komentar