الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا . تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا
وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وأَ شْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا
مُنِيرًا . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ.
"Ramadan Bulan Perubahan, Bulan Keberkahan". berkah adalah bertambahnya berbagai macam kebaikan. Ketika bicara Ramadan sebagai syahrul mubarak, maka berkah adalah dilipatgandakannya kebaikan."
Keutamaan Ramadan dan Pelipatgandaan Pahala
Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan kebaikan di bulan Ramadan setara dengan amalan wajib di luar Ramadan. Bahkan, amalan wajib di Ramadan dilipatgandakan 70 kali. Ramadan juga merupakan bulan kemuliaan, di mana setiap waktu, siang dan malam, adalah kemuliaan, bahkan di luar malam Lailatul Qadar.
Pentingnya Istikamah dan Keseriusan
K.H. Hafidz Abdurrahman menekankan pentingnya istikamah (konsistensi) dalam beribadah. "Kebaikan selanjutnya merupakan hasil kebaikan sebelumnya," ujarnya. Tolok ukur diterimanya ibadah tarawih dan membaca Al-Qur'an adalah kebiasaan setelah Ramadan. Jika kebiasaan setelah Ramadan sama dengan saat Ramadan, maka ibadah kita diterima Allah SWT.
Ulama zaman dahulu bahkan mempersiapkan Ramadan enam bulan sebelumnya dan menangis selama enam bulan setelahnya, memohon agar amal mereka diterima. Rasulullah SAW dan para sahabat tidak mengendurkan semangat setelah Ramadan. Mereka memiliki filosofi hidup yang jelas: "Dari mana kita, mau ke mana kita, dan apa yang kita lakukan sekarang di dunia."
Ali bin Abi Thalib RA berkata bahwa dunia adalah tempat yang benar bagi orang yang memperlakukannya dengan benar. Para sahabat menyadari bahwa dunia tidak kekal, sehingga mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kekuasaan mereka digunakan untuk Islam dan akhirat. Mereka berperang bukan demi ghanimah (harta rampasan), tetapi demi Islam dan akhirat.
Tidak ada kamus "main-main" dalam kehidupan para sahabat. Mereka hidup dengan serius, berdakwah dengan serius, berjihad dengan serius, berbisnis dengan serius, dan mengurus keluarga dengan serius. Rasulullah SAW wafat dalam kondisi tersenyum, karena beliau telah meninggalkan kader-kader yang siap melanjutkan perjuangan.
Keteladanan Said bin Jubair
Said bin Jubair adalah contoh nyata keseriusan dalam beribadah. Beliau sering mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalat, sangat takut kepada Allah SWT, dan memberikan definisi khasyyah (takut) sebagai rasa takut yang menghalangi maksiat. Beliau juga menjelaskan bahwa hakikat zikir adalah taat kepada Allah SWT.
Said bin Jubair juga dikenal pemberani dalam menentang penguasa zalim, Hajjaj bin Yusuf, dan dihukum mati karena keberaniannya menegakkan kebenaran. Beliau menjelaskan bahwa orang yang paling banyak ibadahnya adalah yang paling bertakwa.
Di antara keutamaan puasa disebut Rasulullah saw. sebagai perisai bagi seorang Mukmin. Beliau bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
Puasa adalah perisai seperti perisai salah seorang dari kalian dalam peperangan (HR an-Nasa’i).
Imam Ibnu Rajab rahimahulLâh menjelaskan makna junnah (perisai) dalam hadis di atas, yakni bahwa puasa yang dijalankan seorang hamba akan melindungi dirinya. Seperti perisai yang melindungi seseorang—saat berperang—dari serangan musuh, maka demikian pula puasa. Puasa melindungi pelakunya dari berbagai kemaksiatan di dunia (Ibnu Rajab, Jâmi’ al-’Ulûm wa al-Hikam, 2/139. Maktabah Syamilah).
Puasa yang menjadi perisai bagi seorang hamba dari berbagai kemaksiatan adalah puasa yang membentuk pribadi yang bertakwa. Itulah pribadi yang menaati segala perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya. Inilah pencapaian dari puasa bagi seorang hamba (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 183).
Puasa sebagai junnah (perisai) juga bisa dimaknai sebagai pelindung hamba dari siksa neraka kelak di Akhirat. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis qudsi:
قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ…
Tuhan kita, Allah ‘Azza wa Jalla, telah berfirman, ”Puasa adalah perisai. Dengan perisai itu seorang hamba membentengi dirinya dari siksa api neraka…” (HR Ahmad).
Dengan demikian, puasa yang dijalankan atas dasar iman kepada Allah SWT dan semata-mata mengharap ridha-Nya akan mengantarkan seorang Muslim pada derajat takwa. Dengan itu ia akan terdorong untuk mengamalkan semua perintah Allah SWT tanpa memilah dan memilih lagi.
Dengan itu pula ia akan tergerak untuk meninggalkan semua larangan-Nya seperti ghibah, kata-kata kasar dan kotor; meninggalkan permusuhan terhadap sesama; meninggalkan kebohongan dan penipuan; meninggalkan riba, zina, tindak korupsi, suap-menyuap, pemerasan, dsb. Ketakwaan ini akan terus terbawa walaupun Ramadhan sudah berlalu.
Muhâsabah Diri dan Negeri
Pertanyaannya: Apakah shaum Ramadhan yang telah kita jalankan setiap tahun telah benar-benar menjadi junnah (perisai) untuk diri kita? Sudahkan shaum Ramadhan yang terus berulang setiap tahun membentuk ketakwaan total pada mayoritas Muslim di negeri ini?
Terkait itu, hasil Survei Pew Research Center yang diterbitkan pada tahun 2024 memang menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara paling religius di antara 102 negara lainnya. Namun, kenyataannya justru kontradiktif. Relijius, tetapi jauh dari ketaatan beragama.
Contoh, walaupun banyak diisi para pejabat Muslim, Indonesia malah menjadi ladang subur bagi praktik korupsi. Berdasarkan survei Transparansi Internasional tentang indeks persepsi korupsi pada tahun 2023, Indonesia menempati peringkat ke-115 dari 180 negara dalam pemberantasan kejahatan korupsi.
Jauh dari clean government. Teranyar, bagaimana para pejabat di Pertamina rame-rame melakukan korupsi hingga merugikan negara nyaris mencapai Rp 1.000 triliun! Itu belum termasuk total korupsi bernilai ribuan triliun rupiah lainnya di bidang pertambangan, seperti timah, infrastruktur, dan berbagai bidang lainnya.
Contoh lain, meski Ramadhan disambut gembira, judi online dan pinjaman online tetap merajalela. Sebanyak 8,8 juta warga Indonesia terlibat judol dengan nilai perputaran uang mencapai Rp 600 triliun. Lalu sebanyak 18 juta warga terjerat pinjol dengan nilai transaksi lebih dari Rp 69 triliun.
Praktik premanisme juga terus merajalela di tengah masyarakat. Di antaranya dalam bentuk aksi-aksi pemerasan. Korbannya mulai dari pedagang kecil hingga perusahaan. Himpunan Kawasan Industri (HKI) melaporkan batalnya investasi senilai ratusan triliun rupiah akibat pemerasan yang dilakukan oleh sejumlah ormas di tanah air.
Penyebab semua ini terjadi adalah karena ajaran Islam telah dikerdilkan hanya dalam urusan ibadah ritual semata; tidak untuk bidang lain seperti ekonomi, sosial, pidana, apalagi politik dan pemerintahan. Inilah paham sekularisme yang sudah menjadi falsafah di negeri ini. Agama dipisahkan dari kehidupan. Agama hanya dipraktikkan di tempat-tempat ibadah dan momen-momen ibadah seperti Ramadhan.
Bahkan terjadi pula eksploitasi terhadap ajaran Islam. Islam dipakai saat memberikan keuntungan materi dan popularitas. Ajaran Islam yang membawa keuntungan seperti umrah, haji, zakat, infak dan sedekah digencarkan demi keuntungan penguasa.
Hadits-hadits Pengingat
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
"Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam, tidak mendapat apa-apa dari shalat malamnya kecuali begadang."
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَانْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Sungguh merugi seseorang yang memasuki bulan Ramadan kemudian keluar sebelum diampuni dosanya."
Wahai kaum Muslim! Bukankah sudah saatnya kita memperbaiki kualitas puasa kita? Tidak lain agar terwujud ketakwaan yang hakiki dan menyeluruh dalam diri kita.
Untuk itu, mari kita menjadikan Ramadhan kali ini untuk memulai perubahan menuju pribadi yang benar-benar bertakwa, yang siap menjalankan dan menegakkan syariah Allah SWT secara kâffah.

Komentar