MabdaHouse

Peta Jalan Kehidupan: Menggapai Ridha Allah di Dunia dan Akhirat

Ketika kita sudah memahami bahwa kita ini dari Allah, kemudian kita hidup ini untuk Allah, maka kita akan dikembalikan pada akhirnya nanti menghadap pada Allah. Jangan sampai kita tidak paham roadmap ini. Kalau kita tidak paham roadmap ini, maka kita tidak akan bisa memaknai hidup kita untuk sesuatu yang bermakna dan akhirnya di ujung kehidupan ini kita akan menyesal. Kenapa? Karena ternyata roadmap hidup kita tidak berisi sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala harapkan atau inginkan dari kita.

الٓمّٓرٰ ۚ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ۗ وَٱلَّذِيٓ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤۡمِنُونَ

Alif Lam Mim Ra... Tilka... Inna... Wa'ajabun quluhum aid kunna turaban a inna lafi khalqin jadid. Ulaikalladzina kafaru birabbihim. Wa ulaikal alalu fiqihim wa ulaika ashabunnar. Hum fiha khalidun.

Sadaqallahul adzim.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ٱلَّذِي بَعَثَهُ. ٱللَّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ حَبِيبِنَا ٱلْمُصْطَفَىٰ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَدَاعٍ بِدَعْوَتِهِ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ. فَيا عِبَادَ ٱللَّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَبِتَقْوَىٰ ٱللَّٰهِ، فَقَدْ مُتَّقُونَ

Hadirin sidang jamaah Jumat rahimakumullah, di dalam Surat Ar-Ra'd, surat yang maknanya adalah halilintar, ayat yang pertama sampai ayat yang kelima. Di ayat yang kelima, Allah Subhanahu wa Ta'ala sengaja mengangkat pernyataan orang-orang kafir.

Dan seandainya engkau merasa heran, maka yang mengherankan itu adalah ucapan mereka, kata Allah: "A idza kunna turaban a inna lafi khalqin jadid?" Apabila kita telah atau kami telah menjadi tanah, kata orang kafir, apakah kami akan dikembalikan menjadi makhluk yang baru? Artinya, setelah kematian itu, apakah ada kebangkitan setelah kematian? Karena kita sudah menjadi tanah, bercampur dengan tanah, bahkan kemudian hancur lebur. Pertanyaannya, apakah kita akan dikembalikan menjadi makhluk yang baru? Itu pertanyaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyanggah, membantah orang-orang kafir yang tidak percaya ada kehidupan setelah kematian. 

Kemudian Allah menyatakan: "Ulaikal alladzina kafaru bi rabbihim wa ulaikal alalu fiqihim wa ulaika ashabunnar hum fiha khalidun." Mereka itulah orang-orang yang disebutkan di sini, dilekatkan belenggu di leher-leher mereka, dan mereka itu adalah para penghuni neraka, dan mereka abadi di dalam neraka itu.

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, perhatikan caranya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan tentang kehidupan setelah kematian, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Kuasa, yang Maha Digdaya itu, kekuasaan-Nya, kedigdayaan-Nya, kemampuan-Nya itu dipersoalkan oleh orang-orang kafir, sehingga mereka tidak yakin bahwa setelah kehidupan di dunia kemudian mereka diwafatkan, dikubur di tanah, di bumi, menyatu dengan bumi, seolah-olah tidak ada lagi kehidupan setelah itu, tidak ada kebangkitan.

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah Jumat rahimakumullah, perhatikan betul bagaimana caranya Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan, dimulai dari ayat yang pertama. Allah membuka ayat ini dengan ahruf muqatta'ah, huruf-huruf potongan, Alif Lam Mim Ra, untuk menarik perhatian orang-orang kafir supaya mereka mau mendengar bagaimana argumentasi Allah Subhanahu wa Ta'ala dinyatakan di dalam ayat ini."

"Tilka ayatul kitab," kata Allah, "itu adalah ayat-ayat Kitab Al-Qur'an." "Walladzi unzila ilaika mir rabbika Alhaq," dan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, Alhaq, itu kata Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang diturunkan ayat-ayat itu dan yang diturunkan kepadamu itu adalah Alhaq, adalah kebenaran. "Wakinna aksaran nasi la yukminun," tetapi kebanyakan orang mereka tidak yakin dengan kebenaran yang Allah Subhanahu wa Ta'ala nyatakan itu.

Kemudian Allah membangun argumentasi yang pertama, supaya kemudian orang yakin bahwa yang terjadi di alam semesta ini itu bukan karena apa yang selama ini disebut dengan peristiwa alam, apa yang selama ini disebut dengan fenomena sains, tidak, tetapi semuanya itu berjalan karena hukum Allah, semuanya itu berjalan karena kekuasaan Allah, itu yang Allah ingin nyatakan. Perhatikan di ayat yang kedua ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan: "Allahulladzi rafa'as samawati," Allahlah yang telah mengangkat, meninggikan langit bi ghairi 'amadin taraunaha dengan tanpa tiang seperti yang kalian lihat. Kita melihat ke atas, kalau kita belajar ilmu fisika atau mungkin kita belajar ilmu alam, tidak ada penjelasan yang bisa menjelaskan tentang langit yang biru. Kenapa langit itu berwarna biru?

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, penjelasan yang sering dikemukakan adalah biru itu adalah batas kemampuan mata kita melihat, dan sepanjang mata kita melihat ke langit sekeliling itu yang kita lihat, dan langit itu masih sama mulai zaman Nabi Adam sampai hari ini masih sama, langit yang sama, tidak pernah berubah dan langit itu tegak tanpa tiang. Itu yang Allah nyatakan. Ayat ini diturunkan oleh Allah kepada Nabi dan para sahabat di zaman itu, 14 abad yang lalu, 1400 tahun yang lalu, ayat ini mengatakan seperti itu. Artinya, tidak ada perubahan tentang fenomena yang kita lihat hari ini dengan fenomena yang dilihat oleh orang-orang kafir di masa itu. Allah menyatakan "Allahulladzi rafa'as samawati bi ghairi 'amadin taraunaha." Allah yang telah meninggikan, mengangkat langit itu bi ghairi 'amadin taraunaha, tanpa tiang sebagaimana yang kalian lihat. "Tsummas tawa 'alal 'arsy," kemudian Allah naik ke langit dan Allah bersemayam di atas Arsy. "Wa syams wal qamar," Allah yang menundukkan matahari, Allah yang menundukkan bulan.

Perhatikan bagaimana matahari, matahari terbit dari timur kemudian tenggelam di barat, setiap hari seperti itu, apakah itu kebetulan? Padahal proses kebetulan itu kalau terjadi secara terus menerus setiap hari selama ribuan tahun yang kita tahu, sebagaimana ayat ini menyatakan 1400 tahun yang lalu sampai hari ini matahari masih seperti itu, bulan juga sama, masih tetap seperti itu, maka Allah menyatakan "wa syams wal qamar" dan Dia menundukkan matahari dan bulan. "Kullun yajri li ajalin musamma," masing-masing berjalan dengan tenggat waktu yang sudah ditetapkan. 

Berapa jam perputaran matahari dari ujung timur ke ujung barat itu sama setiap hari. Itu yang disebutkan dalam ayat ini, "Kullun yajri li ajalin musamma". Kemudian Allah melanjutkan, siapa yang mengatur itu? "Yudabbirul amr," yang mengatur itu adalah Allah, Allah yang mengatur semua dari langit sampai ke bumi, yang mengatur matahari, yang mengatur bulan, yang meninggikan langit itu semuanya adalah Allah. "Ati lakum," Allah detailkan, Allah tunjukkan detail-detail tanda-tanda kebesaran Allah."

Kata Allah, supaya kamu itu yakin dengan pertemuan kamu nanti, akan bertemu, dipertemukan, dihadapkan dengan Allah yang telah menciptakan kamu, menciptakan langit dan bumi, menciptakan semuanya itu. Itu kata Allah. Di situ Allah menggunakan kalimatum supaya kamu likum dengan pertemuan Tuhanmu, kamu menjadi yakin. Setelah ditunjukkan kebesaran-kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala tadi, tidak sampai di situ, kemudian di ayat yang ketiga Surah Ar-Ra'd, Allah menyatakan, "Wa huwalladzi maddal ardha" dan Dialah Allah yang meninggikan langit, yang mengatur bagaimana perjalanan matahari dan bulan tadi. Kemudian "Wa huwalladzi maddal ardha" dan Dialah yang telah membentangkan bumi dan menjadikan di atas bumi itu, menjadikan di atas bumi itu ada gunung-gunung yang menancap dan ada sungai-sungai yang mengalir. Subhanallah, siapa yang menciptakan semuanya itu? Allah. Kemudian Allah menyatakan, "Wa min kullits tsamarat ja'ala fiha zaujaini itsnaini" dan dari setiap buah-buahan itu ada berpasang-pasangan. Apa yang dimaksud Allah menjadikan buah itu berpasang-pasangan?

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, hari ini ketika orang sudah mulai kembali kepada apa yang disebut dengan real food, makanan-makanan riil, bukan makanan-makanan olahan, karena makanan riil itu, itu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan untuk kita dan itu yang menyehatkan. Buah misalnya, Allah ciptakan bagaimana ketika tomat dengan alpukat itu dimakan dengan seimbang, maka dia akan bisa memberikan efek kepada apa yang dibutuhkan dari tubuh kita. Begitu juga ketika orang itu memakan buah-buahan yang lain. Di situ Allah menyebutkan di dalam ayat tadi, bagaimana buah itu, yang ini harus dimakan dengan ini, kalau makan ini saja tidak bagus untuk ini, kalau makan ini jadi tidak bagus. Dan di situ Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan, "Kulu wasrobu wa la tusrifu", makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Kalau kita kadang-kadang menyukai buah tertentu, kita makan berlebihan, maka kita harus makan penawarnya. Itu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala nyatakan.

"Wa min kullits tsamarat ja'ala fiha zaujaini itsnaini" dan masing-masing buah itu, Jal kami, Allah Subhanahu wa Ta'ala nyatakan tadi, Allah jadikan berpasang-pasangan. Yang satu itu bisa mengandung zat ini, kemudian yang satu mengandung zat ini. Dan kalau itu dimakan bersama-sama, maka ini bisa menangkal yang satu dan begitu seterusnya. Itu kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Yughsyil lailan nahara" kemudian Allah lanjutkan di dalam ayat itu, "Yughsyil lailan nahara" dan Dia menutupkan malam kepada siang. Artinya, bagaimana malam itu kemudian menutupi siang, dan kemudian di dalam ayat yang lain, Allah jadikan malam itu "wa libasan", Allah jadikan malam itu untuk tempat tidur, untuk waktu beristirahat. "Wa ja'alna an-nahara ma'asya" dan kami jadikan waktu siang itu untuk mencari kehidupan, bekerja. Itu mulai pagi sampai maghrib, tapi malam harus berhenti. Dan itu nanti kemudian Allah tunjukkan bagaimana proses tubuh kita. Makan juga begitu, makan tidak boleh lebih dari waktu malam. Kenapa? Karena di situ terkait dengan proses yang ada dalam tubuh kita. 

Tubuh kita harus berhenti bekerja. Waktu malam adalah waktu di mana sel-sel itu harus diregenerasi, sehingga dia bisa melakukan pemulihan. Dan Allah ciptakan mekanisme itu di dalam tubuh. Begitulah indahnya sistem yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan di dalam diri kita. Dan jika hukum itu dilaksanakan dengan begitu luar biasa, tadi apa yang terjadi? Orang kemudian akhirnya berpikir, "

Iya, ternyata semuanya ini bukan dia manusia itu bahkan tidak bisa mengatur dirinya, tidak bisa mengontrol, dia pun sakit. Kadang-kadang dia tidak tahu apa yang dialami, apa penyebabnya, dan semuanya itu karena ada pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan tadi.

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, Allah kemudian menyatakan, "Inna fi dzalika la ayatin li qaumin yatafakkarun" dan sesungguhnya di dalam hal itu ada tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum, bagi orang, bagi manusia yang mau mencerna, bagi orang, bagi kaum yang mau memikirkan tanda-tanda kebesaran itu. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala lanjutkan di ayat yang keempat, "Wa fil ardhi qitha'un mutajawirat" dan di dalam bumi itu terdapat bagian-bagian yang mutajawirat, berdampingan. "Wa jannatun min a'nab" dan ada kebun-kebun anggur. Kemudian "Wa zar'un wa nakhilun sinwanun wa ghairu sinwanin", di situ ada tanaman-tanaman, ada pohon kurma yang bercabang-cabang dan yang tidak bercabang. "Yusqa bi ma'in wahid" yang disirami dengan satu air. Bayangkan air yang sama menyirami pohon yang sama, tetapi tumbuhnya berbeda. Pertanyaannya, siapa yang menciptakan pohon yang sama dengan siraman air yang sama, tetapi tumbuh dengan berbeda? Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan manusia.

"Wa nufadhilu ba'dhaha 'ala ba'dh fil ukul" kata Allah, dan kami lebihkan tanaman satu atas yang lain dalam hal rasanya, kata Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Inna fi dzalika la ayatin li qaumin ya'qilun" dan sesungguhnya di dalam hal itu ada tanda-tanda kebesaran bagi orang-orang yang mau merenungkan.

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, perhatikan tentang kurma yang Allah sebutkan. Kurma itu, apalagi kalau kita makan kurma sukari, manis sekali. Tetapi yang luar biasa, kurma itu meskipun dia manis, kadar gulanya rendah, sehingga orang yang mengkonsumsi kurma tidak akan mengalami diabetes. Subhanallah, ini kebesaran Allah. Dan bahkan ada rahasia, kenapa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan pada kita agar kita makan kurma itu dengan ganjil? Kenapa tidak dengan bilangan genap? Ada penelitian yang dilakukan dan ini menjadi keyakinan orang Arab. Al-faqir pernah ke Oman, mereka cerita apa rahasia nabi memakan kurma dan cara memakannya itu harus dengan ganjil. Di antaranya mereka mengatakan, ganjil itu adalah obat untuk menghentikan kadar gula, sehingga ketika gulanya berlebih, maka ganjil dengan bilangan ganjil itu akan berhenti. 

Itu di antara rahasia yang mereka yakini. Sehingga siapa memakan kurma dengan hitungan ganjil sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebutkan, dan bahkan khusus terkait dengan 'ajwah, siapa yang pagi hari makan tujuh buah 'ajwah, maka dia kena sihir, dia tidak akan terkena racun. 

Racun yang dimaksud di sini artinya buah itu bisa kita gunakan untuk melakukan detoks. Dan hari ini Thibbun Nabawi membuktikan, ketika di pagi hari orang itu misalnya, dia pagi itu katakanlah setelah buang hajat, kemudian tubuhnya diisi dengan kurma atau mungkin ditambah dengan katakanlah mentimun yang dingin, maka itu akan menjadi proses yang akan menjadikan pencernaan dia setelah didetoks dibuang sebelumnya tadi itu, menjadi pencernaan yang sangat-sangat sehat.

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, ini adalah penjelasan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala nyatakan dalam Al-Qur'an. Maka di ayat yang kelima baru Allah kemudian menghantam bagaimana logika orang-orang kafir yang tidak percaya dengan kebangkitan, logika orang-orang kafir yang tidak percaya dengan keimanan akan adanya kebangkitan setelah kematian. 

Allah nyatakan, "Wa in ta'jab fa'ajabun qauluhum" jadi sekiranya kamu takjub dengan semua fenomena yang tadi sudah ditunjukkan, dengan langit, tadi kamu melihat bagaimana langit ditinggikan tanpa tiang, kemudian "wa syams wal qamar" bagaimana Allah menundukkan matahari dan bulan, "kullun yajri li ajalin musamma" masing-masing berjalan dengan hitungan waktu yang sudah ditentukan tadi, belum lagi yang bumi tadi, belum lagi yang gunung, yang tanah macam-macam tadi itu, termasuk tanaman-tanaman yang berpasang-pasangan yang Allah ciptakan tadi itu. 

Kalau kamu takjub dengan semuanya itu, dengan hebatnya semuanya itu, maka Allah katakan, "fa'ajabun qauluhum" maka yang lebih menakjubkan sesungguhnya adalah ucapan mereka, orang-orang kafir yang akalnya itu ketika bisa takjub dengan semuanya itu, kenapa mereka masih bisa mengatakan apa yang mereka katakan? "A idza kunna turaban a inna lafi khalqin jadid?" Dan kalaulah kami dahulu itu sudah menjadi debu, sudah menjadi tanah, apakah kami ini akan menjadi makhluk yang baru? Apakah kami ini akan bisa dibangkitkan padahal sebelumnya kami ini sudah menjadi tanah, menjadi debu? 

Maka kata Allah, justru kata-kata itu yang lebih mengagatkan. Makanya di dalam Surah Al-Baqarah kemudian Allah mempertanyakan nalar orang kafir dengan mengatakan "kaifa takfuruna billah". Pertanyaan dimulai dengan kata kaifa. Dalam bahasa Arab, kaifa itu menunjukkan keheranan. Kalau kita terjemahkan dengan bahasa bebas, kok bisa kalian itu kafir kepada Allah, sementara kalian itu sebelumnya mati. 

Bagaimana manusia itu mati? Dia berupa sperma, dia berupa air sperma, ketemu dengan sel telur, mati di dalam perut ibunya, belum jadi apa-apa, lalu kemudian Allah hidupkan, Allah tiupkan roh setelah 40 hari, lalu setelah ditiupkan roh kemudian keluar dari rahim dan dia hidup. Setelah itu diberikan kehidupan, lalu kemudian kalian itu dimatikan oleh Allah, lalu dihidupkan kembali setelah itu, "tsumma ilaihi turja'un" dan kemudian kepada Allah kalian akan dikembalikan. Allah mulai dengan kata kaifa. Kata Ibnu Katsir, ayat ini untuk menyanggah, untuk menjelaskan kepada kita, dimulai dengan kata-kata yang menunjukkan adanya keheranan Allah.

Orang Arab paham kalau ada pertanyaan kaifa itu menunjukkan heran. Kenapa Allah menggunakan kata itu untuk menampar logika mereka, untuk menampar kebodohan mereka, agar mereka tertampar dan kemudian sadar bahwa apa yang mereka kufuri itu enggak masuk akal. Apa yang mereka kufuri itu tidak lain adalah menunjukkan kedunguan mereka, kebodohan mereka, dan bagaimana akal mereka itu tidak bisa mikir. Itulah yang Allah nyatakan dan itu penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Oleh karena itu, ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, dari ayat-ayat tadi, khatib ingin sampaikan kepada para jamaah sekalian bagaimana kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Allah tunjukkan kepada kita dan semuanya itu bisa kita nalar dengan nalar kita. Tapi tentu dengan catatan kalau kita mau menggunakan nalar kita untuk memikirkan fenomena-fenomena tadi itu dengan sebaik-baiknya. Tetapi jika tidak, apa yang terjadi? Maka semua itu hanyalah sesuatu yang silih berganti, datang dan pergi dalam kehidupan kita tanpa membawa perubahan apa-apa dalam hidup kita. Kenapa? Karena kita tidak pernah memikirkannya. Dan begitulah ciri orang kafir. Mereka melihat fenomena alam di hadapan dia tapi tidak pernah memikirkannya dan akhirnya tidak membawa perubahan apapun dalam hidupnya. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Alhamdulillah, alhamdulillahilladzi hadaana lihadza, asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim 'ala habibinal musthafa wa 'ala alihi wa ashhabihi wa man da'a bi da'watihi ila yaumil qiyamah.

Fa yaa ibadallah, ushikum wa nafsi bi taqwallah, faqad faaza al-muttaqun. Hadirin jamaah shalat Jumat Masjid Al-Hijrah yang dimuliakan oleh Allah, sekali lagi khatib ingin menutup khotbah yang kedua ini sebagai kesimpulan dari apa yang telah khatib sampaikan di khotbah yang pertama tadi, bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan dunia dan seisinya itu untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Allah menciptakan hidup dan mati bukan untuk kehidupan dan kematian itu sendiri. Karena kita pada dasarnya sebagai makhluk yang Allah berikan akal, Allah ingin menguji siapa di antara kalian yang amalnya sempurna. Dan itulah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala inginkan dari kita. Di dalam ayat yang lain Allah menyatakan, "Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liyabudun". Kita diciptakan di dunia ini dengan hidup, kehidupan itu bukan semata diberikan, bukan semata pemberian dari Allah untuk sekedar hidup, karena kalau kita hidup untuk sekedar hidup, kita tidak ada bedanya dengan hewan. Lalu untuk apa hidup kita? Hidup kita adalah untuk beribadah, mengabdikan diri kita kepada Allah, memenuhi apa yang Allah inginkan, apa yang Allah mau dari kita. Itulah tujuan hidup kita.

Di dalam yang lain Allah menyebutkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Itulah yang Allah ajarkan ke kita. Oleh karena itu, inilah poin utama yang khatib ingin sampaikan, ketika kita sudah memahami bahwa kita ini dari Allah, kemudian kita hidup ini untuk Allah, maka kita akan dikembalikan pada akhirnya nanti menghadap pada Allah. Itulah road map hidup kita, peta jalan hidup kita. Jangan sampai kita tidak paham road map ini. Kalau kita tidak paham roadmap ini, maka kita tidak akan bisa memaknai hidup kita untuk sesuatu yang bermakna dan akhirnya di ujung kehidupan ini kita akan menyesal. Kenapa? Karena ternyata road map hidup kita tidak berisi apa yang sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala harapkan atau inginkan dari kita. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Ayat-ayat yang khatib sampaikan di awal terkait dengan orang kafir tadi itu sama, untuk menunjukkan road map hidup setelah mereka ditunjukkan kebesaran-kebesaran Allah, agar mereka paham "min aina" dari mana mereka, supaya mereka mengakui eksistensi mereka itu datangnya dari Allah, lalu kemudian setelah itu untuk apa "lima", maka kemudian mereka akan menyadari kalau mereka itu datang dari Allah, maka tentu mereka hidup untuk Allah, dan kemudian nanti mereka akan mempertanggungjawabkan semua kehidupan mereka di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ma'asyiral muslimin sidang jamaah rahimakumullah, mari kita tutup khotbah yang kedua ini dengan doa. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui khotbah yang singkat ini memberikan hidayah kepada kita, memberikan taufik kepada kita, dan mengistikamahkan kita, membuka pikiran dan hati kita sehingga kita bisa memahami apa yang disampaikan dan kemudian mengikuti dengan kelapangan hati kita, keikhlasan hati kita untuk melaksanakan road map yang khatib jelaskan tadi. Dengan begitu, insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan jadikan hidup kita, akan jadikan kematian kita dan pertemuan kita dengan Allah sebagai sesuatu yang indah. Amin amin ya rabbal 'alamin.

Komentar