MabdaHouse

Amerika di Ambang Krisis Kelaparan Terburuk: Ketika Demokrasi Gagal Menjamin Perut Rakyat

Ancaman Krisis Pangan di Negara Adidaya

Awal November 2025 menjadi masa kelam bagi warga Amerika Serikat. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) secara resmi mengumumkan bahwa mulai 1 November, program bantuan nutrisi tambahan atau yang biasa disebut program SNAP (Supplemental Nutrition Assistance Program) akan berhenti menyediakan bantuan pangan.

Dampaknya sangat mengerikan. Rakyat Amerika kini sedang bersiap menghadapi krisis kelaparan terburuk sejak era Great Depression tahun 1939.

Sahabat, Amerika Serikat konon dikenal sebagai negara besar, raksasa ekonomi, dan negara adidaya. Ke mana pun penduduknya, apalagi kepala negaranya datang, akan disambut karpet merah dan dielu-elukan. Kebijakan-kebijakannya pun seringkali ingin dicontoh oleh negara lain. Namun nyatanya, pemerintahan Amerika dan cara mereka mengurus rakyatnya tidaklah se-glowing yang orang bayangkan.

Fakta Miris di Balik Kemegahan Amerika

Angka kemiskinan di sana sangat besar. Jumlah warga berpendapatan rendah tidak bisa dianggap ringan. Penduduk yang menggantungkan hidup pada bantuan makanan dari SNAP (dulu disebut Food Stamp) jumlahnya mencapai lebih dari 42 juta jiwa.

Siapa saja mereka?

  • Lebih dari 10 juta anak-anak.

  • 6 juta lansia.

  • Jutaan penyandang disabilitas.

  • Jutaan perempuan yang menanggung hidupnya sendiri dan warga berpenghasilan sangat rendah.

Biasanya, tunjangan bulanan rata-rata diberikan sebesar 190 dolar per orang dengan total anggaran pemerintah sekitar 8 miliar dolar per bulan. Namun, dana ini tidak akan diberikan lagi dan sudah berhenti disetorkan ke rekening penerima sejak 1 November.

Apa penyebabnya? Pemerintahan Amerika hari ini sedang menghadapi krisis besar berupa shutdown (penutupan operasi pemerintahan federal) yang berlangsung panjang sejak 1 Oktober 2025. Selain itu, ada kebuntuan di Kongres untuk menciptakan kekompakan antar-partai, serta adanya undang-undang baru: One Big Beautiful Bill Act. Undang-undang yang ditandatangani Presiden Donald Trump ini memangkas lebih dari 187 miliar dolar dana SNAP hingga tahun 2034.

Dampak Berantai: Malnutrisi hingga Keruntuhan Ekonomi Lokal

Penghentian bantuan ini jelas berdampak fatal. Anak-anak, yang merupakan 40% penerima SNAP, berisiko mengalami stunting, penurunan prestasi akademik, hingga peningkatan penyakit kronis. Bahkan, organisasi-organisasi (NGO) di Amerika melaporkan peningkatan angka kesakitan sebesar 25% hanya dalam sepekan akibat gejala malnutrisi.

Dampak ekonominya pun berantai. Dengan hilangnya daya beli masyarakat miskin, Departemen Pertanian mencatat penurunan penjualan tajam pada pengecer makanan dan pedagang kecil. Sebanyak 250.000 toko mitra SNAP mengumumkan pengurangan stok, dan media-media memperlihatkan rak-rak toko bahan pangan yang kini kosong melompong.

Membongkar Topeng Demokrasi dan Kapitalisme

Sahabat yang dirahmati Allah, dari fenomena ini setidaknya ada tiga hal penting yang harus kita perhatikan:

1. Amerika Tidak Seindah yang Dibayangkan Kesenjangan (gap) antara si kaya dan si miskin sangat luar biasa. Di negara tempat berkumpulnya orang-orang terkaya di dunia ini, ternyata ada 42 juta jiwa (setara populasi Kanada) yang kehilangan sumber makanan. Bahkan untuk sekadar makan pun mereka tidak sanggup.

2. Prioritas yang Salah dan Kezaliman Penguasa Kita tidak boleh hanya bersyukur bahwa Indonesia mungkin sedang surplus pangan, tetapi kita harus melihat ini sebagai momen terbukanya topeng Amerika. Negara yang mengaku kampiun demokrasi ini ternyata memperlakukan perempuan dan anak-anak dengan sangat buruk.

Bayangkan, di saat rakyatnya terancam lapar, pemerintah Amerika justru memilih mengirimkan dana bantuan 280 triliun per tahun kepada entitas Zionis—bukan untuk menyelamatkan nyawa, melainkan untuk membiayai genosida di Gaza.

Tak hanya itu, pemerintahan Trump juga dikabarkan menyiapkan renovasi Gedung Putih lengkap dengan ruang dansa yang diperkirakan menghabiskan dana 41 triliun. Apakah pemerintahan seperti ini yang dikehendaki untuk mengurus rakyat? Tentu tidak.

3. Kegagalan Sistem Politik Demokrasi Masyarakat di negara termaju di dunia itu pun sejatinya membutuhkan sistem politik pengganti. Sistem demokrasi hari ini hanya menyibukkan penguasa dengan kebuntuan kebijakan dan pertikaian politik, hingga mengorbankan perut rakyatnya sendiri. Ini adalah pemerintahan yang membiarkan rakyat kelaparan demi memperkaya kelompok tertentu.

Solusi Islam: Teladan Umar bin Khattab

Dunia membutuhkan alternatif. Jika kita menengok pada pemerintahan yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para Khalifah, kita mendapati hal yang sebaliknya: Pemerintahan yang tulus mengurusi (meriayah) rakyat, terutama kalangan rentan.

Rakyat Amerika, dan dunia pada umumnya, membutuhkan pemerintahan seperti Khilafah. Bagaimana mungkin mereka menolak sistem yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab?

Beliau berpatroli sendiri di malam hari, mencari warganya yang miskin. Ketika menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang menangis kelaparan, Umar merasa itu adalah kelalaiannya. Ia tidak menyalahkan sistem atau bawahan, melainkan memanggul sendiri karung gandum untuk rakyatnya.

Ketika asistennya menawarkan bantuan, Umar bin Khattab menjawab dengan kalimat yang seharusnya menampar wajah para pemimpin hari ini:

"Apakah engkau berani memanggul atau menanggung dosaku pada hari kiamat?"

Penutup

Sahabat yang dirahmati Allah, pemerintah sekuler hari ini tidak takut pada akuntabilitas akhirat. Mereka tidak bisa menjamin pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Sebaliknya, dalam pemerintahan Islam, pemimpin senantiasa takut akan dosa yang ditanggung di hari kiamat jika lalai mengurus satu nyawa pun.

Semoga kita semua dituntun oleh Allah untuk terus taat dan bisa meretas jalan untuk hidup di bawah naungan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiah.

Lau minkum ihdinas shiratal mustaqim.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Komentar