MabdaHouse

Analisis Geopolitik: Benarkah China Sudah Siap Menggeser Dominasi Global Amerika Serikat?


Dunia saat ini menyaksikan kebangkitan China yang luar biasa. Banyak pengamat politik bertanya-tanya: Apakah pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth), penjualan surat utang AS, hingga pembangunan kompleks militer raksasa merupakan tanda bahwa China telah "lepas" dari pandangan regionalnya dan siap menantang Amerika Serikat secara global?


Berikut adalah bedah analisis mengenai posisi China sebenarnya dalam kancah politik internasional saat ini.

1. Transformasi dari Ideologi ke Ekonomi

Sejak berdirinya Republik Rakyat China pada 1949, terjadi pergeseran besar. Jika di era Mao Zedong ideologi komunis menjadi panglima, maka sejak era Deng Xiaoping (1978), prioritas beralih ke ekonomi. Deng menciptakan model ekonomi "campuran" yang memadukan kapitalisme dalam praktik ekonomi dengan jubah komunisme dalam politik 1.

Hasilnya mencengangkan. Sejak 2010, China menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia. Bahkan, Bank of America memprediksi China dapat menggandakan PDB-nya pada tahun 2035 dan melampaui AS2.

2. Indikator Kekuatan: Militer dan Ekonomi

Secara kasat mata, China memang terlihat agresif memperkuat dirinya:

  • Militer: Anggaran pertahanan 2025 direncanakan naik 7,2% menjadi sekitar 249 miliar USD. Jumlah hulu ledak nuklir diperkirakan menembus angka 1.000 pada tahun 20303.

  • Geopolitik: China mengklaim Laut China Selatan secara agresif karena kawasan ini memuat cadangan migas besar dan menjadi jalur 80% perdagangan dunia senilai 5,3 triliun USD4.

Namun, apakah semua ini bentuk serangan global atau sekadar pertahanan diri? Mari kita lihat fakta di balik manuver China.

3. Membedah Tiga Manuver Utama China

Banyak yang mengira tindakan China berikut adalah sinyal dominasi global, padahal realitasnya mungkin berbeda:

A. Pembatasan Logam Tanah Jarang (Rare Earth)

China membatasi ekspor logam ini bukan sebagai strategi jangka panjang untuk mematikan industri AS, melainkan sebagai "kartu tawar" (bargaining chip).

Fakta menunjukkan: Ketika AS menaikkan tarif impor, China membalas dengan pembatasan logam. Namun, ketika Trump menurunkan tarif menjadi 47%, kesepakatan tercapai dan masalah logam tanah jarang diselesaikan sementara 5. Ini murni taktik negosiasi dagang, bukan visi ideologis global.

B. Penjualan Surat Utang AS (US Treasury Bonds)

Penurunan kepemilikan surat utang AS oleh China hingga level terendah sejak 2009 bukanlah serangan ekonomi, melainkan langkah defensif.

Belajar dari pembekuan aset Rusia oleh Barat pasca-perang Ukraina, China mengalihkan asetnya ke emas untuk menghindari risiko pembekuan serupa jika terjadi konflik (misalnya di Taiwan) 6. Emas dianggap sebagai "safe haven" yang lebih aman dari sanksi AS7.

C. Modernisasi Militer & Kompleks Komando Raksasa

Pembangunan pusat komando militer di barat daya Beijing dan perluasan armada laut adalah respons langsung terhadap strategi "pengepungan" AS di Indo-Pasifik 8.

Berbeda dengan AS yang menggantikan Inggris pasca-PD II dengan tujuan mengambil alih wilayah jajahan, militer China dibangun untuk mencegah hegemoni AS di wilayah regional China, bukan untuk mengusir AS dari belahan dunia lain9.

4. Kesimpulan: Raksasa yang Masih "Malu-Malu"

Meskipun memiliki potensi material untuk menjadi negara adidaya global, China tampaknya belum memiliki "nyali" politik untuk menantang AS di luar kandangnya.

Bukti utamanya:

  1. China belum berani mengambil alih Taiwan secara paksa karena melihat dampak sanksi Barat terhadap Rusia10.

  2. China mundur dari proyek strategis di Panama dan Afrika ketika mendapat tekanan keras dari AS11.

Jadi, China saat ini masih bertindak reaktif. Mereka membesar secara regional dan bereaksi terhadap provokasi AS, namun belum memiliki inisiatif untuk mengambil peran kepemimpinan global yang sesungguhnya12.

5. Refleksi

Persaingan antara AS dan China pada hakikatnya adalah pertarungan perebutan materi yang sering kali membawa kerusakan. Dunia membutuhkan peradaban alternatif yang tidak hanya berbasis pada eksploitasi, tetapi pada keadilan dan penyebaran kebaikan, sebagaimana visi peradaban Islam di masa lalu yang diprediksi akan kembali bangkit 13.

 

Komentar