MabdaHouse

Krisis Iklim, Politik Global, dan Muhasabah Bencana dalam Perspektif Islam

 

Fenomena bencana alam yang kian intens, mulai dari banjir hingga perubahan iklim ekstrem, bukan sekadar kejadian alam biasa. Di balik itu semua, terdapat pertarungan geopolitik global, kelalaian pengelolaan lingkungan, dan pesan spiritual yang sering terlupakan. Tulisan ini membedah fenomena tersebut dalam tiga perspektif utama: Geopolitik, Spiritual, dan Kebijakan Publik.

1. GEOPOLITIK & LINGKUNGAN: Di Balik Penolakan Trump terhadap Sains Iklim

Pernyataan kontroversial kembali keluar dari mulut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di panggung dunia, tepatnya dalam Forum Majelis Umum PBB, Trump dengan lantang menyebut gagasan perubahan iklim akibat ulah manusia sebagai "penipuan terbesar sepanjang masa". Tak hanya itu, ia juga melabeli energi terbarukan sebagai sebuah lelucon.

Ironisnya, pidato ini disampaikan ketika berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia (khususnya wilayah Sumatera), sedang berjibaku dengan bencana banjir dan tanah longsor yang semakin intens. Lantas, mengapa pemimpin negara adidaya begitu keras menolak sains iklim? Apakah ini murni kebodohan, atau ada strategi politik licik di baliknya?

A. Fakta vs Retorika Politik

Saat Trump mengatakan krisis iklim adalah hoaks, para ilmuwan di seluruh dunia—termasuk BMKG dan BRIN di Indonesia—memegang data yang sebaliknya. Krisis iklim (climate crisis) bukan sekadar ilusi. Ini adalah kondisi nyata di mana perubahan iklim terjadi begitu cepat dan masif.

Bukti di lapangan sudah tak terbantahkan:

  • Suhu bumi yang terasa semakin hangat.

  • Kenaikan permukaan air laut.

  • Bencana hidrometeorologi yang makin ekstrem (banjir bandang, longsor, kekeringan panjang, hingga kebakaran hutan).

Jadi, narasi Trump sebenarnya bukan didasarkan pada sains, melainkan pernyataan politik. Ini adalah bentuk denial (penyangkalan) dari seorang kepala negara adidaya untuk lari dari tanggung jawab.

B. Mengapa AS Ingin "Cuci Tangan"?

Amerika Serikat tercatat sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar dalam sejarah dunia. Jika mereka mengakui krisis iklim sebagai fakta mendesak, ada konsekuensi finansial dan moral yang besar menanti.

Dalam kesepakatan global (seperti Perjanjian Paris), negara-negara maju (Global North) yang telah menikmati hasil industrialisasi ratusan tahun diwajibkan membantu negara berkembang (Global South)—baik secara teknologi maupun pendanaan—untuk transisi ke energi hijau.

Dengan menyebut krisis iklim sebagai "hoaks", Trump berusaha melepaskan AS dari kewajiban membayar "utang emisi" tersebut. Ini adalah strategi ekonomi untuk melindungi kepentingan industrinya sendiri tanpa peduli pada kerusakan global.

C. Standar Ganda Negara Barat

Ada sisi lain yang perlu diwaspadai negara berkembang seperti Indonesia. Isu krisis iklim sering kali dipolitisasi oleh Barat sebagai senjata dagang (trade barrier).

Contoh nyatanya adalah penolakan terhadap sawit atau nikel Indonesia dengan alasan "isu lingkungan". Padahal, sering kali solusi yang mereka tawarkan (seperti skema perdagangan karbon) penuh celah kecurangan dan hanya menguntungkan posisi geopolitik mereka. Mereka ingin negara berkembang tetap "hijau" tapi miskin, sementara mereka enggan mentransfer teknologi atau dana yang dijanjikan.

2. PERSPEKTIF SPIRITUAL: Pesan Langit di Balik Bencana

Dalam perspektif spiritual, setiap musibah mengandung pesan langit. Ketika kemaksiatan bertebaran, manusia telah sengaja mengundang peringatan dari Allah SWT.

Belajar dari Kaum Terdahulu

Al-Qur'an menceritakan umat Nabi Nuh yang sombong menolak dakwah dan mengundang azab hingga ditenggelamkan banjir dahsyat. Al-Qur'an menggunakan istilah fasad untuk menunjukkan kerusakan di muka bumi akibat tangan manusia (QS Ar Ruum: 41). Para mufassir memaknai fasad sebagai segala sesuatu yang bukan kebaikan, termasuk kekurangan hujan dan kelaparan.

Manusia kebanyakan tidak bersyukur dan berbuat maksiat, yang merupakan kezaliman pada diri sendiri. Kehidupan yang sempit dan menakutkan adalah akibat berpaling dari peringatan Allah (QS Thahaa: 124).

Solusi Spiritual: Taubat Nasuha

Solusinya adalah kembali kepada jalan Allah (la'allakum yarji'un) dengan taubat nasuha dan kembali kepada aturan Ilahi dalam kehidupan individu, masyarakat, maupun negara. Rasulullah SAW adalah teladan sempurna yang perilakunya bersumber pada wahyu.

Sebagaimana janji Allah SWT:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS Al A'raf: 96).

3. KRITIK KEBIJAKAN: Kelalaian Penguasa dan Deforestasi

Selain faktor alam dan spiritual, faktor kebijakan (politis) memegang peranan vital dalam terjadinya bencana di negeri ini. Berikut adalah catatan penting terkait penanganan bencana dan lingkungan:

  • Penyikapan Sekularistik: Pemimpin negeri sering kali hanya mengandalkan analisis ilmiah semata dan tidak pernah mengaitkan musibah dengan kelalaian menaati hukum Allah. Padahal, sejarah kaum terdahulu (seperti Fir'aun) hancur karena menentang syariat.

  • Respons yang Lambat: Penanganan korban pasca musibah kerap kali sangat lambat, sementara urgensi penerapan sistem yang adil sering terabaikan.

  • Lingkaran Setan Politik & Hutan: Banjir sering kali merupakan dampak dari deforestasi di hulu dan penimbunan rawa di hilir. Secara politis, riset KPK menyebutkan bahwa perizinan sektor kehutanan sering menjadi imbalan bagi pengusaha yang mendanai kampanye Pilkada.

Data Global Forest Watch menyebut Indonesia kehilangan 9,75 juta hektare hutan primer (2002-2020). Hal ini masuk akal karena izin konsesi sering diberikan secara ugal-ugalan demi devisa, namun dampaknya tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang harus ditanggung rakyat.

Krisis iklim adalah fakta, namun solusinya bukan sekadar ganti teknologi, melainkan ganti paradigma. Kita membutuhkan pandangan hidup yang tidak menempatkan materi sebagai tuhan, mengelola bumi sebagai amanah, serta sistem politik yang tidak transaksional (kapitalistik) melainkan sistem yang amanah sesuai syariat.

Komentar