MabdaHouse

Membedah "Madilog" Tan Malaka: Sebuah Catatan Kritis dari Sudut Pandang Islam


Bagi Tan Malaka, Madilog adalah "jembatan keledai"—sebuah cara untuk mengingat dan memahami konsep berpikir yang abstrak lewat jembatan singkatan. Konsep ini lahir dari keresahan Tan melihat kondisi bangsa Indonesia saat itu.

​Namun, setelah menelusuri pemikiran ini lebih jauh, muncul sebuah pergolakan batin. Di satu sisi, ada keterikatan konteks sejarah yang membuat kita paham kenapa Tan berpikir demikian. Tapi di sisi lain, ketika kita mencoba mendudukkannya dengan kacamata seorang Muslim, ada beberapa "catatan merah" yang cukup fundamental.

​Mari kita bedah satu per satu: Materialisme, Dialektika, dan Logika.

​1. Materialisme: Ketika Materi Dianggap Azali

​Dalam pandangan filsafat materialisme, dunia dipandang hanya dari sesuatu yang terlihat, yaitu materi.

​Pada spektrum yang lebih ekstrem, materialisme menganggap bahwa materi itu sifatnya Qadim dan Azali. Artinya, materi dianggap tidak berawal dan tidak berakhir; ia akan selamanya ada. Pandangan ini tentu membawa implikasi serius bagi seorang Muslim:

  • Menihilkan yang Gaib: Secara sadar atau tidak, materialisme meruntuhkan keimanan pada hal-hal yang gaib. Padahal, keimanan pada yang gaib adalah fondasi utama dalam agama.
  • Status Manusia: Materialisme mendudukkan manusia semata-mata sebagai makhluk biologis (kumpulan materi). Sedangkan dalam Islam, esensi manusia adalah seorang ‘Abd (Hamba Allah).

​Materialisme mencoba menjelaskan dunia tanpa campur tangan Tuhan, yang tentu bertabrakan head-to-head dengan konsep ketuhanan dalam Islam.

​2. Dialektika: Kebenaran yang Tidak Pernah Pasti

​Pindah ke huruf "D", yaitu Dialektika. Kita sering mendengar istilah Tesis, Antitesis, dan Sintesis. Konsep ini (yang dipengaruhi Hegel) memandang bahwa hidup dan sejarah lahir dari pertentangan atau proses dialektis.

​Masalahnya muncul ketika kita bicara tentang definisi kebenaran.

​Dalam dialektika, kebenaran dianggap hanya sebatas "produk sejarah". Sifatnya tidak pakem, selalu berubah, dan tidak absolut. Jika kita meyakini dialektika sebagai satu-satunya cara memandang dunia, maka kita harus mengakui bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak.

​Hal ini kontradiktif dengan Islam. Dalam agama, kebenaran wahyu bersifat absolut dan melintasi batas waktu, bukan sekadar produk sejarah yang bisa dianulir oleh zaman.

​3. Logika: Antara "Alat" dan "Sumber"

​Terakhir, Logika (Rasionalisme). Apakah Islam anti-logika? Tentu tidak. Islam justru sangat mendorong penggunaan akal (seperti dalam konsep Aqidah Aqliyah).

​Namun, titik krusial perbedaannya ada pada cara mendudukkannya:

  • Dalam Madilog/Rasionalisme Murni: Akal dan logika seringkali dijadikan sebagai sumber kebenaran tertinggi. Ujung-ujungnya, rasionalisme murni akan menyimpulkan bahwa "tidak ada kebenaran di luar akal".
  • Dalam Islam: Akal adalah alat untuk mencari dan memahami kebenaran, bukan sumber kebenaran itu sendiri. Sumber kebenaran tetaplah Wahyu.

​Akal kita gunakan untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan memahami syariat, tapi akal tidak bisa menjadi hakim mutlak atas segala sesuatu, terutama yang melampaui jangkauannya.

​Sebuah Pertanyaan Besar

​Setelah membedah ketiga unsur tersebut, muncullah sebuah pertanyaan besar yang selama ini mengganjal:

"Bisa nggak sih, kita sebagai seorang Muslim—yang otomatis berstatus sebagai Hamba dan meyakini yang gaib—sekaligus menjadi seorang penganut Madilog seutuhnya?"


​Rasanya sulit menyatukan dua paradigma ini dalam satu wadah yang utuh. Menjadi Muslim berarti meyakini bahwa materi adalah makhluk (diciptakan), bukan sesuatu yang azali. Menjadi Muslim berarti meyakini kebenaran wahyu yang absolut, bukan sekadar produk dialektika sejarah. Dan menjadi Muslim berarti menempatkan akal sebagai alat untuk tunduk pada Tuhan, bukan menuhankan akal itu sendiri.

Komentar