Fenomena Global: Saat Dunia Mulai "Lelah" dengan Media Sosial
Kesadaran akan bahaya dunia digital bagi generasi muda mulai memuncak di penghujung tahun 2025 ini. Sebuah langkah drastis diambil oleh pemerintah Australia. Mulai 10 Desember 2025, Australia resmi memberlakukan Undang-Undang Pembatasan Usia, di mana anak di bawah usia 16 tahun dilarang memiliki akun media sosial.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dengan tegas mengampanyekan pandangan ini sejak Sidang Umum PBB pada September 2025. Platform raksasa seperti TikTok, Instagram, Snapchat, Facebook, Reddit, hingga X (Twitter) tidak lagi bebas diakses oleh anak-anak. Jika platform tersebut gagal mengontrol dan meloloskan pengguna di bawah umur, denda fantastis sebesar 50 juta Dolar Australia (setara Rp500 miliar) menanti mereka.
Senada dengan itu, Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan bahwa dunia digital harus memiliki rambu tegas. Aplikasi digital hari ini dirancang bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai "magnet" yang manipulatif.
"Aplikasi-aplikasi ini dirancang untuk membuat kecanduan dengan algoritma yang manipulatif demi meraup keuntungan raksasa korporasi digital."
Dampaknya nyata dan mengerikan: cyberbullying, dorongan self-harm (menyakiti diri sendiri), predator siber, hingga gangguan mental akibat algoritma yang adiktif.
Di Indonesia, pemerintah juga telah meluncurkan PP Tunas (Peraturan Pemerintah terkait Perlindungan Anak di Ruang Digital) pada Mei 2025. Regulasi ini mewajibkan platform digital menyediakan fitur keamanan, verifikasi usia, dan pemblokiran konten berbahaya seperti kekerasan ekstrem, pornografi, dan perjudian.
Namun, pertanyaannya mendasar: Apakah sekadar regulasi dan pembatasan usia mampu mengatasi akar masalah yang lahir dari dunia digital ini?
Algoritma: Instrumen Kontrol Perilaku (Behavioral Control)
Kita harus menyadari bahwa apa yang tersaji di layar gawai kita tidaklah acak. Algoritma hari ini adalah instrumen behavioral control (pengontrol perilaku). Mesin secara otomatis memprediksi minat pengguna. Sekali kita melakukan klik, menonton beberapa detik, memberikan like, atau share, semua itu direkam untuk menyuplai konten berikutnya yang membuat kita terus terpaku.
Tujuannya bukan edukasi, melainkan adiksi. Pengguna yang menyukai konten hiburan, flexing, mistis, hingga kriminal akan terus dibombardir dengan konten serupa. Hal ini melahirkan fenomena di mana figur-figur viral dipuja-puji, seolah perilaku mereka adalah standar kebenaran, padahal seringkali jauh dari nilai moral.
Dalam Islam, menjaga pendengaran dan penglihatan adalah kewajiban karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36)
Algoritma yang memicu sikap impulsif dan "tanpa pikir panjang" ini menjauhkan manusia dari tabayyun dan perenungan (tazakkur), sifat yang sangat ditekankan dalam Islam.
Dominasi Nilai Sekuler dan Liberal
Poin krusial kedua adalah mengenai nilai di balik algoritma. Konten-konten yang diberi "panggung" oleh algoritma mayoritas adalah yang selaras dengan nilai sekuler dan liberal. Mengapa? Karena nilai inilah yang mendominasi sistem dunia saat ini.
Raksasa digital beroperasi dalam kerangka kapitalisme yang mengagungkan kebebasan: bebas berperilaku, bebas meraup cuan, dan bebas menentukan standar baik-buruk sendiri. Algoritma tidak akan mempromosikan nilai-nilai yang bertentangan dengan kepentingan rezim kapitalisme global.
Akibatnya, manusia didorong menjadi impulsif, hedonis, dan jauh dari pegangan agama. Di negara-negara Barat, kontrol sosial dari agama dan keluarga sudah sangat lemah. Kini, dunia nyata tak lagi berdaya mengontrol perilaku warganya karena mereka terkungkung oleh arahan algoritma.
Jika kerusakan ini terus menyebar ke negeri-negeri kaum muslimin, ini adalah bukti nyata bahwa gaya hidup sekuler-liberal adalah racun. Allah SWT telah memperingatkan tentang kerusakan yang ditimbulkan oleh tangan manusia yang melupakan Tuhan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)
Tergerusnya Identitas Muslim: Saat Sosmed Menjadi Kiblat
Interaksi dengan gawai bukanlah interaksi dengan benda mati yang bebas nilai. Ia adalah interaksi dengan way of life (pandangan hidup). Semestinya, kaum muslimin adalah pihak yang paling merasakan pertentangan ini, karena Islam memiliki standar nilainya sendiri.
Namun realitasnya menyedihkan. Banyak muslim hari ini—baik generasi muda maupun tua—tidak lagi menjadikan syariat Islam sebagai standar hidup. Mereka terjebak dalam "standar sosmed". Cita-cita, ukuran kebahagiaan, hingga definisi benar dan salah kini merujuk pada apa yang viral di TikTok atau Instagram, bukan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an.
Rasulullah ﷺ pernah memprediksi kondisi di mana umat Islam akan mengikuti kebiasaan orang-orang di luar Islam (Yahudi dan Nasrani) sejengkal demi sejengkal:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ
"Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, niscaya kalian akan masuk ke dalamnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Anak-anak muda muslim kini banyak yang menolak referensi syariat jika dianggap "tidak logis" menurut standar liberal yang mereka konsumsi setiap hari. Ini terjadi karena minimnya interaksi dengan orang tua, guru, dan ulama, tergantikan oleh interaksi intensif dengan layar gawai.
Solusi: Membangun Kedaulatan Digital dan Kembali pada Islam
Raksasa digital yang rakus dan sistem kapitalisme global telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin. Nilai-nilai Islam yang luhur dan menjaga manusia dari kebinasaan justru "dicampakkan" oleh algoritma karena tidak menguntungkan secara materi atau ideologi.
Kita tidak bisa hanya bergantung pada regulasi parsial negara-negara yang sejatinya juga mengemban ideologi sekuler. Kaum muslimin membutuhkan kedaulatan digital dan sistem kehidupan yang mampu menandingi hegemoni ini.
Perubahan ini tidak akan terjadi jika kita hanya diam dan terbawa arus. Kita harus berikhtiar mengubah kondisi ini, mulai dari menyadarkan keluarga, masyarakat, hingga memperjuangkan sistem Islam yang melindungi akidah umat.
Allah Ta'ala berfirman:
...إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ...
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Dan sebagai penutup, mari kita ingat tanggung jawab kita untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka, termasuk dari api fitnah digital ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا...
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Semoga Allah menunjuki kita ke jalan yang lurus (Ihdinash shiratal mustaqim).

Komentar