MabdaHouse

Zohran Mamdani dan Ilusi Harapan Baru: Sebuah Analisis Geopolitik Islam

Di tengah hiruk-pikuk politik Amerika Serikat, sebuah nama mencuat dan menjadi pusat perhatian: Zohran Mamdani. Sosok yang disebut-sebut sebagai Walikota terpilih New York ini membawa narasi yang berbeda. Pada pertemuan pertamanya dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih, dinamika unik terjadi. Meski Mamdani secara terbuka melabeli Trump sebagai "fasis dan despot" selama masa kampanye, pertemuan tatap muka mereka justru berlangsung cair.

Mamdani menyatakan bahwa pertemuan tersebut adalah "kesempatan untuk bekerja sama dalam menurunkan biaya hidup warga di New York." Trump pun merespons dengan sikap lunak, berjanji akan mendukung Mamdani. Namun, di balik jabat tangan dan senyum diplomatis tersebut, tersimpan pertanyaan besar: Apakah Zohran Mamdani benar-benar harapan baru bagi publik Amerika dan dunia Islam, atau sekadar wajah baru dalam sistem oligarki yang sama?

Siapa Zohran Mamdani? Sosok di Balik Popularitas

Untuk memahami arah politiknya, kita harus membedah siapa sebenarnya Zohran Mamdani. Ia bukan sekadar politisi karbitan, melainkan sosok anak muda dengan militansi tinggi.

Latar belakangnya cukup kompleks:

  1. Imigran Uganda: Ia memiliki akar keturunan dari Uganda, memberikan perspektif minoritas yang kuat.

  2. Sosialis Demokrat: Ia dikenal sebagai aktivis yang sangat kritis, berafiliasi dengan Democratic Socialists of America (DSA).

  3. Identitas Muslim: Ia merepresentasikan komunitas Muslim di New York yang jumlahnya signifikan.

Secara demografis, New York adalah wilayah dengan populasi minoritas yang besar (sekitar 33% kurang lebih). Mamdani berhasil mengapitalisasi rasa frustrasi masyarakat terhadap isu-isu mendasar seperti mahalnya biaya pendidikan, krisis perumahan, dan kesenjangan sosial.

Fakta Tambahan (Konteks Aktual): Dalam realitas politik terkini (per 2024-2025), Zohran Mamdani adalah Anggota Majelis Negara Bagian New York (New York State Assemblymember). Ia dikenal vokal dalam memperjuangkan "Not On Our Dime Act" yang melarang organisasi nirlaba New York mendanai pemukiman ilegal Israel. Langkahnya maju dalam kontestasi Walikota New York memang menjadi simbol perlawanan sayap kiri terhadap kemapanan.

Mengapa Ia Bisa Menang? Kegagalan Kapitalisme Amerika

Kemenangan narasi Mamdani di panggung politik besar tidak terjadi di ruang hampa. Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir gagal menciptakan kesejahteraan merata. Biaya hidup meroket, sewa apartemen tidak masuk akal, dan biaya kesehatan mencekik.

Masyarakat Amerika, khususnya anak muda, semakin kritis dan tidak percaya (distrust) terhadap partai politik mainstream, baik Demokrat maupun Republik. Mereka tidak lagi peduli pada label "Liberal" atau "Konservatif", apalagi "Sosialis". Yang mereka butuhkan adalah solusi konkret atas penderitaan ekonomi mereka.

Janji-janji Mamdani—seperti transportasi gratis, universitas gratis, dan pajak tinggi bagi orang kaya (penghasilan di atas $400.000)—adalah respons langsung terhadap keresahan ini.

Dalam Islam, keadilan sosial dan distribusi kekayaan memang menjadi perhatian utama, agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya saja. Allah SWT berfirman:

"...Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu..." (QS. Al-Hashr [59]: 7)

Mamdani menang karena ia membawa "janji keadilan" ini, terlepas dari label ideologisnya.

Realitas Pahit: Cengkeraman Oligarki dan Ilusi Perubahan

Sistem politik AS sangat transaksional dan dikuasai oleh pemodal besar, kepentingan asing (termasuk lobi Zionis Israel), dan elite partai. Sejarah mencatat, Barack Obama dan Donald Trump pun naik dengan isu populisme dan janji perubahan. Namun, ketika berkuasa, mereka "terpaksa" berkompromi dengan struktur oligarki yang ada.

Tantangan Mamdani:

  1. Tekanan Institusional: Ia akan ditekan oleh partai, lembaga perwakilan, dan pelobi.

  2. Keterbatasan Wewenang: Sebagai Walikota (atau pejabat publik), ia tidak bisa melampaui tradisi kepentingan kapitalis AS.

  3. Politik Manipulatif: Seringkali, janji populisme hanyalah strategi meraup suara. Setelah menjabat, kebijakan kembali pro-penguasa.

Rasulullah SAW telah mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap pemimpin yang pandai berbicara namun tindakannya berbeda, atau sistem yang penuh tipu daya.

"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, dan orang yang amanah dikhianati..." (HR. Ibnu Majah no. 4036)

Mamdani, tanpa dukungan backing kekuatan politik yang mampu menandingi oligarki pusat, kemungkinan besar hanya akan sibuk mencari alibi atas kegagalan merealisasikan janji-janjinya kelak.

Perspektif Dunia Islam: Antara Harapan dan Kewaspadaan

Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi fenomena Zohran Mamdani?

1. Jangan Terjebak Identitas Mentang-mentang Mamdani seorang Muslim, bukan berarti visinya sejalan dengan syariat Islam secara kaffah. Sebagai kader Partai Demokrat, Mamdani mau tidak mau harus mendukung platform partai yang sangat liberal, seperti dukungan terhadap pernikahan sejenis (LGBTQ) dan aborsi—hal-hal yang bertentangan dengan nilai Islam.

Allah SWT mengingatkan agar kita tidak tertipu oleh penampilan atau ucapan seseorang yang tampak menarik hati namun memusuhi nilai kebenaran:

"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras." (QS. Al-Baqarah [2]: 204)

2. Pahami Realitas Politik Kita harus melihat Mamdani sebagai bagian dari mekanisme politik Amerika Serikat semata. Tidak perlu ada euforia berlebihan bahwa ia akan menjadi "Salahuddin Al-Ayyubi" baru di New York. Ia adalah produk sistem sekuler-liberal yang sedang mencoba bertahan di tengah krisis kapitalisme.

Seorang mukmin harus cerdas dan tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali—tertipu oleh janji manis politisi yang akhirnya tunduk pada sistem yang menindas.

"Seorang mukmin tidak boleh disengat (ular) dari satu lubang dua kali." (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998)

Zohran Mamdani adalah fenomena menarik yang menunjukkan pergeseran demografi dan ideologi di Amerika Serikat. Namun, mengharapkan perubahan fundamental dari dalam sistem yang dirancang untuk melayani oligarki adalah sebuah kenaifan.

Bagi umat Islam, kehadirannya cukup disikapi sebagai dinamika politik biasa. Fokus kita seharusnya bukan pada ketokohan individu dalam sistem kufur, melainkan pada bagaimana membangun kekuatan umat yang mandiri dan tidak bergantung pada belas kasihan sistem jahiliyah modern

Komentar