MabdaHouse

Hard Gumay, Nostradamus hingga Baba Vanga: Mengapa Ramalan Masih Dipercaya? (Tinjauan Islam)

Hard Gumay, Nostradamus hingga Baba Vanga: Mengapa Ramalan Masih Dipercaya di Era Digital?

Di era digital yang serba canggih ini, fenomena ramalan dan prediksi masa depan justru semakin marak. Nama-nama besar seperti Baba Vanga, peramal buta asal Bulgaria yang prediksinya tentang banjir global 2022 dianggap akurat, hingga peramal modern Indonesia seperti Hard Gumay, sering kali menjadi trending topic di media sosial.

Bahkan, menjelang tahun baru, pencarian mengenai "prediksi 2026" atau "ramalan Nostradamus" meningkat tajam. Namun, pernahkah Anda bertanya, mengapa di tengah kemajuan teknologi, banyak orang masih menggantungkan harapan pada hal-hal mistis dan takhayul? Bagaimana sebenarnya hukum mempercayai ramalan dalam Islam?

Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena tersebut berdasarkan penjelasan Ustaz Iskandar Yadi Hasibuan dari Himayah Konsultan, mulai dari akar penyebab psikologis hingga tinjauan syariat yang tegas.

Fenomena Ramalan: Bukan Hal Baru dalam Sejarah

Praktik meramal nasib bukanlah hal baru. Sejak zaman Jahiliyah, bangsa Arab sudah mengenal istilah Kahin (dukun/peramal) dan Arrof (orang yang mengaku mengetahui barang hilang atau nasib). Bahkan di masa Firaun, para penyihir memiliki posisi penting sebelum akhirnya mereka beriman kepada Nabi Musa AS.

Bentuknya mungkin berubah—dari melihat bintang (zodiak/munajim) hingga menggunakan media kartu atau penerawangan modern—namun hakikatnya tetap sama: mengklaim mengetahui hal gaib.

5 Alasan Mengapa Orang Masih Percaya Ramalan

Menurut Ustaz Iskandar, ada lima faktor utama yang membuat praktik perdukunan dan ramalan tetap laris manis di pasaran:

1. Naluri Mempertahankan Diri (Gharizatul Baqa')

Manusia memiliki naluri dasar untuk bertahan hidup yang memunculkan rasa takut. Rasa takut terbesar manusia biasanya berkaitan dengan dua hal: takut miskin (kelaparan) dan takut akan ketidakpastian masa depan (rasa tidak aman).

Setan memanfaatkan celah ini dengan menakut-nakuti manusia akan kemiskinan, sehingga mereka mencari jalan pintas melalui jimat atau ramalan nasib untuk mendapatkan rasa aman semu.

2. Lemahnya Akidah dan Kurangnya Ilmu

Banyak umat Muslim yang masih mempercayai takhayul (seperti kejatuhan cicak atau burung gagak sebagai pertanda buruk) karena kurangnya pemahaman agama. Syekh Wahid Abdus Salam Al-Bali menyebutkan bahwa pintu masuk utama setan adalah kebodohan (jahil) terhadap ilmu agama.

3. Tradisi dan Mitos Turun-Temurun

Budaya yang salah seringkali diwariskan dari orang tua ke anak tanpa filter. Misalnya, memakaikan jimat penangkal pada bayi atau ritual tolak bala yang tidak sesuai syariat. Rantai mitos ini sulit diputus jika tidak ada edukasi yang benar.

4. Pengaruh Media dan Hiburan

Tayangan televisi dan film horor yang mengeksploitasi dunia gaib turut membentuk pola pikir masyarakat. Acara-acara misteri seringkali demi rating semata, namun dampaknya menanamkan rasa takut berlebih dan rasa penasaran terhadap dunia perdukunan.

5. Tekanan Ekonomi (Mencari Solusi Instan)

Kesulitan ekonomi memaksa sebagian orang mencari jalan pintas. Ingin cepat kaya atau "anti-miskin" menjadi jualan utama para dukun. Padahal, seringkali hal ini tidak logis—seperti penjual jimat anti-miskin yang justru menjual jimatnya karena butuh uang.

Hukum Ramalan dalam Islam: Dosa Besar yang Menggerus Tauhid

Islam sangat tegas melarang segala bentuk ramalan. Mengapa? Karena mengetahui hal gaib adalah hak prerogatif Allah SWT semata.

"Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah..." (QS. An-Naml: 65)

Ketika seseorang mengaku bisa meramal masa depan, ia sejatinya sedang mencoba menyetarakan diri dengan Allah dalam hal ilmu gaib. Ini adalah bentuk kekufuran yang nyata.

Ancaman Bagi Pelaku dan Pengguna Jasa Ramalan

  • Bagi Peramal: Penghasilan dari praktik meramal (hulwanul kahin) adalah haram, setara dengan hasil jual beli anjing dan uang pelacuran. Hukuman bagi penyihir/dukun dalam hukum Islam sangat berat, yakni hukuman mati (dipenggal) oleh negara.
  • Bagi yang Bertanya: Sekadar iseng bertanya kepada peramal menyebabkan salat tidak diterima selama 40 hari.
  • Bagi yang Mempercayai: Jika seseorang bertanya lalu membenarkan ucapan peramal, maka ia dianggap telah kufur (ingkar) terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Solusi Islam Mengatasi Wabah Perdukunan

Untuk memutus mata rantai kepercayaan pada ramalan, Islam menawarkan solusi komprehensif yang melibatkan tiga elemen:

  1. Ketakwaan Individu: Setiap Muslim wajib menuntut ilmu (ngaji) untuk memperkuat akidah. Rasa takut hanya boleh ditujukan kepada Allah. Takut kepada Allah mendekatkan, sedangkan takut pada makhluk (ramalan) justru menjauhkan dari rahmat-Nya.
  2. Kontrol Masyarakat (Dakwah): Masyarakat harus aktif saling mengingatkan dan memutus tradisi syirik. Termasuk di dalamnya adalah mengkritisi tayangan media yang mempromosikan klenik.
  3. Peran Negara: Negara bertanggung jawab menjaga akidah umat dengan menerapkan aturan hukum yang tegas terhadap praktik perdukunan dan sihir, sehingga tidak ada ruang bagi penipuan berkedok spiritual ini.

Kesimpulan

Mempercayai ramalan Baba Vanga, Nostradamus, atau peramal modern lainnya bukan hanya tanda kelemahan nalar, tetapi juga ancaman serius bagi keimanan. Masa depan adalah rahasia Allah. Tugas manusia adalah berusaha (ikhtiar) dan bertawakal, bukan mencari bocoran nasib yang justru menjerumuskan ke dalam dosa syirik.

FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan

Q: Bolehkah membaca ramalan zodiak hanya untuk hiburan?
A: Tidak boleh. Dalam Islam, sekadar membaca atau bertanya tanpa mempercayai pun sudah terkena ancaman tidak diterima salatnya selama 40 hari.

Q: Bagaimana jika ramalan peramal itu terbukti benar?
A: Kebenaran sesekali itu adalah tipu daya setan (istidraj) yang mencuri dengar berita langit lalu mencampurnya dengan ratusan kebohongan untuk menyesatkan manusia.

Hard Gumay, Nostradamus & Baba Vanga Hukum Ramalan dalam Islam

Komentar