MabdaHouse

Hukum Aurat Wanita Menopause (Lansia) dalam Islam: Tafsir QS An-Nur Ayat 60

Oleh: Yuana Ryan Tresna

I. Pendahuluan

Salah satu pembahasan penting dalam fikih pakaian muslimah adalah mengenai batasan aurat bagi wanita lanjut usia yang tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah (al-qawa’id min an-nisa’). Terdapat anggapan keliru bahwa QS. An-Nur ayat 60 membolehkan wanita kategori ini untuk melepaskan kerudung (khimar) mereka.

Tulisan ini bertujuan mendudukkan makna sebenarnya dari ayat tersebut berdasarkan pendapat para mufasir mu'tabar seperti Imam Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Ibnu Asyur, serta kajian kitab Libas al-Mar’ah al-Muslimah.


II. Nash Al-Qur'an dan Pokok Permasalahan

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nur ayat 60:

وَٱلْقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَٰتٍۭ بِزِينَةٍ ۖ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)

Inti Permasalahan: Frasa "yadha'na thiyabahunna" (menanggalkan pakaian mereka) menimbulkan pertanyaan: Pakaian apakah yang boleh ditanggalkan? Apakah Jilbab (baju luaran) sekaligus Khimar (kerudung)? Ataukah hanya Jilbab saja?

III. Penafsiran Para Ulama: Jilbab Saja, Bukan Khimar

Jumhur ulama tafsir menegaskan bahwa pakaian yang boleh dilepas hanyalah Jilbab (pakaian luar/mantel), sedangkan Khimar (kerudung penutup kepala) tetap wajib dikenakan. Berikut argumentasinya:

1. Tafsir Imam Al-Qurthubi

Dalam tafsirnya, Imam Al-Qurthubi mengutip beberapa pendapat, namun beliau menguatkan pendapat yang mewajibkan penutupan aurat secara sempurna bagi wanita tua, kecuali baju luaran.

Beliau berkata:

وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا كَالشَّابَّةِ فِي التَّسَتُّرِ ؛ إِلَّا أَنَّ الْكَبِيرَةَ تضع الْجِلْبَابَ الَّذِي يَكُونُ فَوْقَ الدِّرْعِ وَالْخِمَارِ ، قَالَهُ ابْنُ مَسْعُودٍ ، وَابْنُ جُبَيْرٍ ، وَغَيْرُهُمَا "Pendapat yang shahih (benar/kuat) adalah bahwa wanita tua tetap sama seperti wanita muda dalam kewajiban menutup aurat. Hanya saja, wanita tua boleh melepas jilbab yang dipakai di atas dir‘ (baju dalam) dan khimār. Demikianlah pendapat Ibn Mas‘ūd, Ibn Jubair, dan selain keduanya." (Tafsir Al-Qurthubi)

2. Tafsir Ibnu Katsir dan Riwayat Ibnu Mas'ud

Pemahaman ini dikuatkan oleh riwayat qira'ah (bacaan) dari sahabat Abdullah bin Mas'ud ra. yang berfungsi sebagai penjelas tafsir.

Ibnu Katsir menukil:

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَغَيْرُهُ فِي قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ " أَنْ يَضَعْنَ مِنْ ثِيَابِهِنَّ " وَهُوَ الْجِلْبَابُ مِنْ فَوْقِ الْخِمَارِ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَضَعْنَ عِنْدَ غَرِيبٍ أَوْ غَيْرِهِ بَعْدَ أَنْ يَكُونَ عَلَيْهَا خِمَارٌ صَفِيقٌ "Dan Sa‘īd bin Jubair serta selainnya berkata—berdasarkan qirā’ah Abdullah bin Mas‘ūd—tentang firman (أَنْ يَضَعْنَ مِنْ ثِيَابِهِنَّ / an yadha'na min thiyabihinna), yakni yang dimaksud adalah jilbab yang dipakai di atas khimār. Maka tidak mengapa bagi mereka melepaskannya di hadapan orang asing, selama masih mengenakan khimār yang tebal."

Analisis: Penambahan kata "Min" (مِنْ) dalam riwayat Ibnu Mas'ud menunjukkan makna tab'idh (sebagian). Artinya, tidak semua pakaian dilepas, melainkan hanya sebagian (yaitu jilbab luaran).

IV. Tinjauan Balaghah dan Syarat "Ghaira Mutabarrijat"

Secara kebahasaan (Balaghah) dan konteks ayat, terdapat bukti kuat bahwa membuka kepala (melepas khimar) adalah hal yang terlarang dalam ayat ini.

  1. Majaz Mursal: Ungkapan "menanggalkan pakaian" adalah Majaz Mursal dengan hubungan ithlaqul kulli wa iradatil juz'i (menyebutkan keseluruhan tapi yang dimaksud adalah sebagian). Mustahil maknanya menanggalkan seluruh pakaian (telanjang), maka maknanya pasti menanggalkan lapisan terluar (jilbab).
  2. Larangan Tabarruj sebagai Pengikat (Qayd): Ayat tersebut memberikan syarat mutlak: غَيْرَ مُتَبَرِّجَٰتٍۭ بِزِينَةٍ (tidak menampakkan perhiasan).

Dalam kitab Libas al-Mar’ah al-Muslimah wa Zinatuha dijelaskan:

إِذَا كَانَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أّذِنَ لِلْمَرْأَةِ الكَبِيرَةِ ... فِي التَّخَفُّفِ مِنْ بَعْضِ الثِّيَابِ وَاشْتَرَطَ عَلَيْهَا عَدَمَ إِظْهَارِ الزِّينَةِ؛ فَفِي هَذَا أَوْضَحُ دَلِيلٍ عَلَى تَحْرِيمِ إِظْهَارِ المَرْأَةِ زِينَتَهَا أَمَامَ غَيْرِ الزَّوْجِ وَالمَحَارِمِ "Jika Allah memberi izin kepada wanita tua untuk meringankan pakaiannya namun dengan syarat tidak menampakkan perhiasan, maka ini dalil paling jelas atas haramnya menampakkan perhiasan bagi selain suami dan mahram."

Logika Hukum: Rambut, leher, dan dada adalah pusat perhiasan (zinah) wanita. Jika khimar dilepas, maka zinah akan terlihat. Jika zinah terlihat, maka terjadi tabarruj. Padahal ayat melarang tabarruj. Kesimpulan: Agar syarat "tidak tabarruj" terpenuhi, maka khimar (penutup kepala) tidak boleh dilepas.

V. Harmonisasi Dalil: Antara QS. An-Nur 31 dan 60

Pendapat yang mewajibkan khimar bagi wanita tua sesungguhnya sedang melakukan metode Al-Jam'u (kompromi/penggabungan dalil), bukan mempertentangkannya.

  • QS. An-Nur: 31 (Ayat Umum/Azimah): Mewajibkan seluruh wanita beriman menutup aurat dan melabuhkan khimar ke dada.
  • QS. An-Nur: 60 (Ayat Khusus/Rukhshah): Memberikan keringanan khusus bagi wanita menopause untuk melepas Jilbab (baju kurung luaran) karena faktor usia dan kesulitan fisik, namun tetap terikat aturan umum menutup aurat dasar (khimar).

Syaikh Abdurrahim Faris Abu ‘Ulbah menyatakan:

جَاءَتْ هَذِهِ الآيَةُ تَرْفَعُ الحَرَجَ عَنِ العَجَائِزِ مِنَ النِّسَاءِ فِي لُبْسِ الجِلْبَابِ فِي الحَيَاةِ العَامَّةِ "Ayat ini datang untuk menghilangkan kesulitan (raf'ul haraj) bagi wanita tua dalam mengenakan jilbab (pakaian luaran) di kehidupan umum."

VI. Kesimpulan Hukum

Berdasarkan paparan di atas, berikut adalah ringkasan hukum bagi wanita Al-Qawa'id (Menopause):

  1. Wajib Khimar: Mereka tetap wajib mengenakan kerudung yang menutup kepala, leher, dan dada. Haram hukumnya memperlihatkan rambut.
  2. Rukhshah (Keringanan): Mereka dibolehkan melepas Jilbab (pakaian luaran/mantel/jubah besar) saat beraktivitas di ruang publik, asalkan pakaian dalam (dir') sopan, longgar, dan tidak transparan.
  3. Utama (Afdhal): Mengambil sikap Isti'faf (menjaga kehormatan) dengan tetap memakai jilbab lengkap adalah lebih baik bagi mereka, sebagaimana penutup ayat: wa an yasta'fifna khairun lahunna.

Demikianlah pendapat yang dipegang oleh para mufasir mu'tabar dan lebih selamat dalam agama.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi:
  • Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an (Tafsir Al-Qurthubi).
  • Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (Tafsir Ibnu Katsir).
  • At-Tahrir wa At-Tanwir (Ibnu Asyur).
  • Libas al-Mar’ah al-Muslimah wa Zinatuha (Shalahuddin bin Ahmad al-Idlibiy).

Komentar