Sejarah peradaban Islam mencatat banyak nama besar, namun sedikit yang memiliki kedekatan sedetail Anas bin Malik radhiallahu anhu. Dikenal dengan gelar mulia Khadimu Rasulillah (Pelayan Rasulullah), Anas menghabiskan masa kecil hingga remajanya melayani keperluan Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Bukan sekadar pembantu, Anas bin Malik adalah saksi hidup keseharian Nabi, periwayat hadis yang terpercaya, dan bukti nyata keberkahan doa Rasulullah. Bagaimana kisah lengkap Anas bin Malik yang melayani Nabi selama 10 tahun tanpa pernah dimarahi? Mari kita selami biografi dan hikmahnya dalam ulasan Sirah Nabawiyah berikut ini.
Daftar Isi:
Siapakah Anas bin Malik RA? Mengenal Nasab dan Latar Belakang
Nama lengkap beliau adalah Anas bin Malik bin Nadr bin Dimdim dari Bani Najjar, salah satu kabilah besar suku Khazraj di Madinah (Yathrib). Beliau dikenal dengan nama panggilan (kunyah) Abu Hamzah.
Meskipun berasal dari kaum Anshar, Anas memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW dari jalur ibu leluhur Nabi. Nenek buyut Nabi (ibunda Abdul Muthalib) berasal dari Bani Najjar. Karena itulah, Rasulullah pernah bersabda, "Sebaik-baik kampung Anshar adalah Bani Najjar."
Yatim Sejak Kecil dan Didikan Ummu Sulaim
Sejak kecil, Anas bin Malik telah menjadi yatim karena ayahnya, Malik, meninggal dalam keadaan musyrik akibat dibunuh musuh. Namun, Anas beruntung memiliki ibu yang luar biasa, yakni Ummu Sulaim (Al-Ghumaisa). Ummu Sulaim adalah wanita cerdas yang masuk Islam lebih dulu berkat dakwah Mus'ab bin Umair sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Dialah yang mengajarkan syahadat pertama kali kepada Anas kecil.
Menjadi Pembantu Rasulullah Selama 10 Tahun
Momen paling bersejarah dalam hidup Anas terjadi ketika Rasulullah SAW hijrah dan tiba di Madinah. Saat itu, Anas baru berusia 10 tahun. Ummu Sulaim dengan penuh semangat membawa Anas menemui Nabi dan berkata:
"Wahai Rasulullah, ini anakku Unais (panggilan sayang Anas), aku membawanya kepadamu untuk melayanimu."
Tujuan Ummu Sulaim bukanlah menjadikan anaknya pekerja kasar, melainkan agar Anas bisa mulazamah (belajar intensif) dengan menyerap ilmu, adab, dan akhlak langsung dari sumbernya. Anas melayani Nabi sejak kedatangan beliau di Madinah hingga wafatnya Nabi, total selama 10 tahun pengabdian.
Akhlak Agung Nabi: Tidak Pernah Memarahi Pembantu
Selama satu dekade melayani, Anas bin Malik memberikan kesaksian yang menggetarkan hati tentang akhlak Rasulullah SAW. Anas berkata:
- Rasulullah tidak pernah berkata kasar atau mengumpat ("Ah!").
- Beliau tidak pernah bertanya "Mengapa engkau lakukan ini?" jika Anas melakukan kesalahan.
- Beliau tidak pernah bertanya "Mengapa engkau tidak melakukannya?" jika Anas lupa mengerjakan sesuatu.
Sebuah kisah masyhur menceritakan ketika Nabi menyuruh Anas kecil untuk suatu keperluan ke pasar. Namun, Anas justru asyik bermain dengan anak-anak lain. Nabi tidak memarahinya, melainkan menyusul, memegang tengkuknya dengan lembut, tersenyum, dan hanya bertanya, "Wahai Unais, apakah engkau sudah melakukan yang aku perintahkan?"
Ini adalah metode pendidikan terbaik yang membentuk karakter Anas menjadi periwayat hadis yang teliti dan penuh kasih sayang.
Doa Rasulullah: Kunci Kekayaan dan Keberkahan Anas bin Malik
Atas permintaan ibunya, Rasulullah memanjatkan doa khusus untuk Anas bin Malik yang dampaknya sangat luar biasa dalam kehidupannya. Doa tersebut berbunyi:
"Allahumma aktsir maalahu wa waladahu wa barik lahu fihi."
(Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, serta berkahilah ia di dalamnya).
Doa ini benar-benar dikabulkan oleh Allah SWT. Berikut adalah bukti keberkahan hidup Anas bin Malik:
- Harta Melimpah: Anas menjadi salah satu sahabat Anshar yang paling kaya. Kebunnya sangat subur dan bisa berbuah dua kali dalam setahun, sesuatu yang langka di tanah Arab.
- Keturunan yang Banyak: Diriwayatkan bahwa anak dan cucu Anas bin Malik mencapai lebih dari 100 orang (sekitar 129 orang) semasa hidupnya.
- Umur Panjang: Anas bin Malik dikaruniai umur yang sangat panjang, hidup melampaui usia 100 tahun (wafat sekitar 93 H), sehingga beliau sempat hidup pada masa kekhalifahan Bani Umayyah.
Karamah dan Kecintaan Anas kepada Nabi
Sebagai Wali Allah dan sahabat dekat Nabi, Anas memiliki karamah. Suatu ketika, penjaga kebunnya melapor bahwa tanahnya kekeringan di musim panas. Anas segera salat dan berdoa. Seketika itu juga, awan datang menaungi kebunnya dan hujan turun dengan deras hanya di area kebun beliau hingga air meluap.
Rindu yang Mendalam
Meski bergelimang harta dan keturunan, kebahagiaan terbesar Anas bin Malik tetaplah kenangannya bersama Rasulullah. Beliau pernah berkata bahwa dua hari paling berkesan dalam hidupnya adalah hari saat Nabi tiba di Madinah (paling bahagia) dan hari saat Nabi wafat (paling gelap).
Di masa tuanya, Anas sering menangis karena rindu. Beliau berkata, "Setiap malam aku bermimpi melihat kekasihku, Rasulullah SAW."
Kesimpulan: Kisah Anas bin Malik mengajarkan kita tentang pentingnya pendidikan adab sejak dini, keberkahan berkhidmat kepada ulama atau orang saleh, dan dahsyatnya doa seorang Nabi. Semoga kita bisa meneladani kecintaan Anas bin Malik kepada Rasulullah SAW.
Komentar