Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa sebagian ayat Al-Quran terasa sulit dipahami jika dimaknai secara harfiah kata per kata? Atau mengapa ada perdebatan sengit mengenai ayat-ayat sifat Allah? Jawabannya seringkali bermuara pada satu konsep penting dalam ilmu bahasa Arab: Majaz dalam Al-Quran.
Memahami Majaz (gaya bahasa metaforis/kiasan) bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan pondasi fundamental dalam Ushul Tafsir. Tanpa memahami konsep ini, seorang penafsir bisa terjebak dalam pemahaman yang dangkal, kaku, bahkan menyimpang dari maksud Allah yang sebenarnya. Dalam kajian kitab At-Taisir Fi Ushuli Tafsir, dijelaskan bahwa pengingkaran terhadap majaz bisa berakibat fatal pada akidah dan hukum syara.
Apa Itu Majaz dan Mengapa Ada Perdebatan?
Secara sederhana, Majaz adalah penggunaan kata bukan pada makna aslinya karena adanya hubungan (alaqah) dan indikator (qarinah) yang menghalangi makna asli tersebut. Namun, keberadaan majaz dalam Al-Quran menjadi topik perdebatan di kalangan ulama. Ada dua kelompok besar dalam menyikapi hal ini:
- Kelompok Penolak (Nafi): Berpendapat bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang Maha Benar, sehingga semua kata harus bermakna hakiki (sebenarnya). Menurut mereka, majaz adalah "kebohongan" yang tidak layak bagi Al-Quran.
- Kelompok Pendukung (Musbat): Mayoritas ulama (Jumhur) menegaskan bahwa majaz adalah keindahan (balaghah) bahasa Arab. Karena Al-Quran turun dalam bahasa Arab, maka mustahil Al-Quran sepi dari gaya bahasa majaz.
Bukti Nyata Majaz dalam Ayat Al-Quran
Untuk membuktikan bahwa majaz itu ada dan sangat rasional, mari kita bedah beberapa contoh ayat yang mustahil dimaknai secara harfiah (hakiki).
1. Kasus "Jari Masuk ke Telinga"
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 19, Allah menggambarkan orang munafik yang ketakutan mendengar petir:
Analisis Logika:
- Secara Hakiki (Literal): Kata Ashabi'ahum berarti seluruh jari-jari tangan. Secara fisik, mustahil memasukkan seluruh jari tangan ke dalam lubang telinga.
- Secara Majaz (Kiasan): Yang dimaksud adalah Al-Anamil (ujung jari). Allah menyebutkan "keseluruhan" (jari) padahal yang dimaksud adalah "sebagian" (ujung jari).
- Jenis Majaz: Itlaqul Kul wa Iradatul Juz (Menyebutkan keseluruhan, bermaksud sebagian).
2. Kasus "Bertanya pada Kampung"
Perhatikan firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 82:
Analisis Logika:
- Jika dimaknai Literal, perintah ini menyuruh kita bertanya kepada tanah, bangunan, tembok, dan pohon di kampung tersebut. Benda mati tidak bisa menjawab.
- Secara Majaz, maknanya adalah Was'al Ahlal Qaryah (Tanyalah kepada PENDUDUK kampung).
- Jenis Majaz: Majaz Hazf (Adanya kata yang dibuang/disembunyikan).
Bahaya Fatal Mengingkari Majaz dalam Tafsir
Mungkin Anda bertanya, "Apa masalahnya kalau saya menolak majaz? Saya ingin berpegang teguh pada teks asli." Sikap ini, meskipun terdengar hati-hati, justru bisa menjerumuskan pada kesalahan fatal, terutama dalam bab Akidah.
1. Terjebak dalam Tasybih (Menyerupakan Allah dengan Makhluk)
Banyak ayat yang menyebutkan "Wajah Allah", "Tangan Allah", atau "Sisi Allah" (Jambullah). Jika kita menolak konsep majaz dan memaksakan makna hakiki (literal) bahasa manusia, kita akan membayangkan Allah memiliki organ tubuh fisik.
Contohnya pada ayat:
Jika Jambun dimaknai literal sebagai "pinggang" atau "sisi tubuh" (seperti sisi kanan/kiri manusia), ini adalah kesesatan. Dalam bahasa Arab, ungkapan ini adalah Majaz yang bermakna:
- Makna Tafsir: Kelalaian dalam menunaikan hak-hak Allah atau perintah Allah. Bukan berarti Allah punya sisi fisik.
2. Kebingungan (Irtibak) dalam Memahami Teks
Orang yang menolak majaz akan mengalami kebingungan mental saat bertemu ayat seperti "Dan sisa peninggalan dari apa yang ditinggalkan keluarga Musa...". Jika ditanya makna "Tangan Allah di atas tangan mereka", mereka akan berkata: "Punya tangan, tapi tidak seperti tangan kita."
Padahal, solusi bahasanya sederhana: Itu adalah gaya bahasa (uslub) untuk menunjukkan Kekuasaan atau Perlindungan, sebagaimana orang Arab biasa berkata "Tangan Pangeran menguasai kota ini" (artinya kekuasaannya, bukan tangan fisiknya yang menutupi kota).
Kesimpulan: Keseimbangan dalam Tafsir
Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas (Lisanan 'Arabiyyan Mubiina). Allah SWT menyapa manusia dengan gaya bahasa yang mereka pahami, termasuk penggunaan majaz untuk memperindah dan memperkuat makna.
Oleh karena itu, menolak keberadaan majaz dalam Al-Quran bukan hanya menolak kaidah bahasa, tetapi juga berpotensi menutup pintu pemahaman yang benar terhadap pesan-pesan Ilahi. Seorang penuntut ilmu wajib memahami kapan sebuah kata bermakna hakiki dan kapan bermakna majazi berdasarkan indikator (qarinah) yang syar'i dan logis.
Ingin Memperdalam Ilmu Ushul Tafsir?
Jangan biarkan pemahaman Al-Quran Anda berhenti di permukaan. Pelajari lebih dalam kaidah-kaidah tafsir yang muktabar bersama para ahli.
Ikuti Kajian Tafsir Selanjutnya
Komentar