MabdaHouse

Pentingnya Muhasabah Diri: Evaluasi Iman dan Amal untuk Bekal Akhirat

Muhasabah Diri: Evaluasi Iman dan Amal Bersama K.H. Siddiq Aljawi
Nafsiyah Muhasabah, Ruhiyah, Afkar, KH Siddiq Aljawi

Disarikan dari Kajian Ngaji Subuh bersama K.H. Siddiq Aljawi, M.Si.

Manusia diciptakan tidak dalam keadaan maksum (terbebas dari dosa) layaknya para Nabi dan Rasul. Setiap detik dalam kehidupan kita adalah pilihan: apakah kita akan melangkah menuju ketakwaan atau justru tergelincir dalam kemaksiatan? Di sinilah pentingnya melakukan muhasabah diri atau evaluasi iman dan amal secara rutin.

Dalam rubrik Soal Jawab Fikih kali ini, K.H. Siddiq Aljawi, M.Si. memaparkan secara mendalam tentang hakikat muhasabah, standar apa yang harus digunakan untuk menilai diri, serta buah manis dari evaluasi tersebut.

Daftar Isi:

Apa Itu Muhasabah Diri (Muhasabatun Nafs)?

Secara terminologi, para ulama mendefinisikan Muhasabatun Nafsi sebagai:

"Berpikirnya seorang muslim atas dirinya sendiri untuk menyingkap kekurangan-kekurangan (dosa) yang dilakukannya kepada Allah maupun sesama manusia, agar ia dapat melepaskan diri darinya dengan jalan tobat. Serta untuk mengetahui ketaatan yang telah dilakukan agar ia bersyukur dan mengulanginya."

Jadi, inti dari muhasabah adalah kalkulasi atau perhitungan rugi-laba spiritual. Kita mencari tahu sisi mana yang kurang untuk diperbaiki, dan sisi mana yang sudah baik untuk dipertahankan.

Dalil Wajibnya Muhasabah Diri

Perintah untuk melakukan evaluasi diri ini bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban yang tersirat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan wajibnya muhasabah diri sebelum nanti kita dihisab oleh Allah di Yaumil Akhir. Senada dengan perkataan masyhur Umar bin Khattab RA:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang."

Muhasabah Wajib Menggunakan Standar Syariah (Halal-Haram)

Poin paling krusial yang disampaikan oleh K.H. Siddiq Aljawi adalah mengenai alat ukur atau standar dalam bermuhasabah. Kita tidak boleh menilai perbuatan kita baik atau buruk berdasarkan standar manusia, aturan buatan lembaga, atau tren semata.

Kenapa? Karena di akhirat kelak, Allah SWT akan mengadili manusia menggunakan hukum-Nya, bukan hukum buatan manusia. Maka, evaluasi di dunia pun harus menggunakan standar hukum Allah (Syariah).

Contoh Kasus: Pinjol dan Miras

Sebagai contoh nyata dalam kehidupan modern:

  • Pinjaman Online (Pinjol): Lembaga keuangan mungkin mengatakan pinjol itu "legal" dan "boleh" selama terdaftar di OJK. Namun, standar syariah tegas mengatakan bahwa setiap pinjaman yang berbunga adalah Riba, dan hukumnya Haram. Jika kita bermuhasabah menggunakan standar OJK, kita akan merasa aman. Namun jika menggunakan standar Allah, kita sedang dalam bahaya besar.
  • Minuman Keras (Miras): Aturan manusia mungkin membolehkan penjualan miras di zona tertentu (jauh dari sekolah/masjid). Namun, standar Islam tegas mengharamkan khamar mulai dari pabriknya, distributornya, penjualnya, hingga peminumnya.

Oleh karena itu, jangan sampai kita tertipu. Gunakanlah "anak timbangan" yang benar, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, agar hasil muhasabah kita valid di hadapan Allah.

Buah Manis Muhasabah: Tobat dan Syukur

Setelah melakukan evaluasi dengan standar yang benar, akan ada dua hasil yang kita dapatkan:

  1. Menemukan Kekurangan/Dosa: Solusinya adalah Taubatan Nasuha. Jika dosa itu terkait hak Allah (seperti meninggalkan salat), maka wajib diqadha dan memohon ampun. Jika terkait hak manusia (seperti hutang), maka wajib dilunasi atau meminta keikhlasan.
  2. Menemukan Ketaatan: Solusinya adalah Syukur. Kita bersyukur Allah telah meringankan langkah kita untuk beramal saleh, dan bertekad untuk istikamah mengulanginya di masa depan.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan Muhasabah?

Meskipun perintahnya bersifat mutlak (bisa kapan saja), ada waktu-waktu yang dianjurkan untuk memaksimalkan proses introspeksi ini:

  • Setiap Selesai Salat: Luangkan waktu sejenak setelah zikir untuk merenung.
  • Setiap Pekan (Jumat): Mengevaluasi amal selama satu minggu ke belakang.
  • Setiap Tahun (Ramadan): Momen terbaik untuk pembersihan jiwa secara total.
  • Sebelum Tidur: Mengevaluasi aktivitas seharian penuh.

Semoga kita termasuk orang-orang yang cerdas (Al-Kayyis), yaitu orang yang senantiasa menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Mari mulai hari ini dengan standar penilaian yang benar sesuai syariat Islam.

Sumber: Artikel ini disarikan dari kajian Ngaji Subuh TV bersama K.H. Siddiq Aljawi, M.Si.

Komentar