Ilustrasi: Penguasaan Bahasa Arab adalah syarat mutlak bagi Mufassir.
Daftar Isi:
- 1. Hakikat Lafaz Sebagai Wadah Makna
- 2. Membantah Mitos: Cukupkah Terjemahan?
- 3. Studi Kasus: Tafsir Tanpa Bahasa Arab itu Mustahil
- 4. Bukti Sejarah: Sahabat Nabi dan Syair Jahiliyah
- 5. Bahaya 'Lahan': Kesalahan Bahasa adalah Kesesatan
- 6. Peta Jalan Belajar untuk Penuntut Ilmu
- 7. Referensi & Sumber Rujukan
- 8. FAQ (Tanya Jawab)
Memahami urgensi Bahasa Arab dalam tafsir Al-Qur'an merupakan fondasi mutlak bagi siapa saja yang ingin menyelami kedalaman makna wahyu. Masih banyak anggapan keliru di kalangan umat Islam bahwa sekadar membaca terjemahan atau mengandalkan hadis terjemahan sudah cukup untuk mengambil hukum syara'.
Padahal, dalam kajian Usul Tafsir—sebagaimana dijelaskan secara gamblang dalam kitab At-Taisir Fi Usul Tafsir—penguasaan bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan Syair) adalah syarat yang tak bisa ditawar. Tanpa perangkat ini, pemahaman terhadap Nas (teks suci) berisiko dangkal, bias, bahkan fatal.
1. Hakikat Lafaz Sebagai Wadah Makna
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami filosofi dasar bahasa dalam ilmu tafsir. Syekh Atha bin Khalil menjelaskan sebuah kaidah fundamental:
"Lafaz-lafaz adalah wadah bagi makna-makna."
Dalam bahasa Arab, sebuah lafaz menampung makna melalui empat metode utama. Kegagalan memahami salah satu dari metode ini akan menyebabkan cacat dalam penafsiran:
- Al-Haqiqah (Makna Sebenarnya): Penggunaan kata pada makna aslinya, baik secara bahasa (Lughawiyah), kebiasaan masyarakat (Urfiyah), maupun ketetapan syariat (Syar'iyah).
- Al-Majaz (Makna Kiasan): Penggunaan lafaz bukan pada makna aslinya karena adanya indikator (Qarinah) dan hubungan makna (Alaqah), seperti metafora.
- Al-Isytiqaq (Derivasi Kata): Proses pembentukan kata dari akar katanya. Contoh: memahami perubahan morfologi dari akar kata Salima menjadi Islam, Muslim, dan Salam.
- At-Ta'rib (Arabisasi): Penyerapan kata asing ke dalam bahasa Arab yang telah disesuaikan polanya, sehingga sah menjadi bahasa Arab murni (contoh: Istabraq, Jahanam).
2. Membantah Mitos: Cukupkah Terjemahan?
Terdapat pandangan yang meremehkan pentingnya bahasa Arab dengan alasan: "Al-Qur'an kan sudah ditafsirkan oleh ayat lain atau Hadis Nabi, jadi tidak perlu pusing belajar Nahwu Sharaf secara mendalam."
Pandangan ini dibantah keras oleh penulis kitab At-Taisir dengan dua argumen logis yang tak terbantahkan:
- Kuantitas yang Sedikit: Faktanya, jumlah ayat yang ditafsirkan secara eksplisit oleh ayat lain atau Hadis sangatlah sedikit (al-qalil). Bagaimana dengan ribuan ayat lainnya? Tentu membutuhkan penggalian makna bahasa.
- Penjelas Pun Butuh Bahasa: Sekalipun ada ayat atau Hadis penjelas, teks penjelas tersebut juga berbahasa Arab. Bagaimana kita bisa memahami "penjelasnya" jika kita tidak mengerti kosakata di dalamnya?
3. Studi Kasus: Tafsir Tanpa Bahasa Arab itu Mustahil
Untuk membuktikan betapa krusialnya hal ini, mari kita bedah contoh nyata dari Al-Qur'an.
Kasus Makna Kata Halu'a (QS. Al-Ma'arij)
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (halu'a)." (QS. Al-Ma'arij: 19)
Meskipun ayat berikutnya menjelaskan bahwa Halu'a adalah orang yang berkeluh kesah saat susah (Jazu'a) dan kikir saat lapang (Manu'a), kita tetap membutuhkan kamus bahasa Arab untuk memahami kedalaman maknanya:
- Jazu'a (جَزُوعًا): Bukan sekadar sedih, tapi berasal dari Al-Jazaa' yang bermakna kesedihan sangat mendalam hingga hilang kesabaran.
- Manu'a (مَنُوعًا): Bukan sekadar pelit (bakhil), tapi sifat menahan harta dengan sangat kuat dan enggan berbagi sedikitpun.
Tanpa ilmu bahasa (etimologi), kita tidak akan menangkap nuansa emosi dari kata Jazu'a dan Manu'a tersebut.
4. Bukti Sejarah: Sahabat Nabi dan Syair Jahiliyah
Fakta sejarah menunjukkan bahwa para Sahabat Nabi—yang notabene orang Arab asli (Arab Aqhah)—terkadang masih menemukan kata-kata sulit (Gharib) dalam Al-Qur'an. Solusi mereka bukanlah mengarang makna atau sekadar menebak, melainkan kembali ke Syair Jahiliyah sebagai referensi bahasa (*Diwan al-Arab*).
Hal ini terlihat jelas dalam dialog masyhur antara Nafi' bin Azraq dan Abdullah Ibnu Abbas r.a. (Sang Ahli Tafsir):
Dialog Ibnu Abbas tentang Kata "Al-Wasilah"
Saat ditanya makna Wasilah dalam QS. Al-Maidah: 35, Ibnu Abbas menjawab maknanya adalah Al-Hajah (Kebutuhan).
Ketika diminta dalil, beliau mengutip syair penyair Jahiliyah, Antarah bin Syaddad:
إِنَّ الرِّجَالَ لَهُمْ إِلَيْكِ وَسِيلَةٌ ...
"Sesungguhnya kaum lelaki memiliki keperluan (wasilah) kepadamu..."
Ini membuktikan bahwa sastra Arab kuno adalah "arsip" tak terpisahkan untuk memahami diksi Al-Qur'an secara presisi.
5. Bahaya 'Lahan': Kesalahan Bahasa adalah Kesesatan
Rasulullah SAW dan para sahabat memandang kesalahan tata bahasa (Lahan) sebagai masalah serius yang dapat merusak makna wahyu, bukan sekadar "salah ucap".
Rasulullah SAW pernah bersabda ketika mendengar seseorang salah struktur kalimat:
"Bimbinglah saudara kalian, karena sesungguhnya dia telah tersesat (dhalla)." (HR. Hakim)
Perhatikan diksi Nabi: Beliau menggunakan kata "Tersesat". Ini menunjukkan bahwa kesalahan Nahwu (gramatika) adalah pintu gerbang menuju penyimpangan pemahaman agama.
Kisah Kemarahan Umar bin Khattab
Umar bin Khattab r.a. pernah menegur sekelompok orang yang salah mengucapkan kalimat: "Inna qaumun muta'allimin".
Kesalahan ini ada pada kata Muta'allimin (posisi Nashab/Jar), padahal seharusnya dibaca Rafa' menjadi Muta'allimun (sebagai Khabar Inna). Umar berkata, "Demi Allah, kesalahan lisan kalian lebih berat bagiku daripada kesalahan memanah kalian!"
6. Peta Jalan Belajar untuk Penuntut Ilmu
Melihat tingginya urgensi bahasa Arab dalam tafsir di atas, haram hukumnya bagi seseorang yang tidak memiliki ilmu alat untuk menafsirkan Al-Qur'an sembarangan (tawaqquf).
Bagi Anda yang ingin memulai belajar, kuncinya adalah Himmah (Tekad yang kuat). Berikut adalah materi yang wajib dipelajari secara bertahap:
- Tsaqafah Lughawiyah (Teori): Meliputi Nahwu (struktur kalimat), Sharaf (perubahan kata), dan Balaghah (keindahan makna).
- Maharah Lughawiyah (Praktik): Meliputi keahlian mendengar (Istima'), berbicara (Kalam), membaca pemahaman (Qira'ah), dan menulis (Kitabah).
Jangan terburu-buru ingin membaca cepat (*ngagorolang*). Membaca pelan namun memahami struktur kata (mana Subjek/Fa'il, mana Objek/Maf'ul) jauh lebih utama daripada membaca cepat namun kosong dari pemahaman makna.
7. Referensi & Sumber Rujukan
📚 Daftar Pustaka:
- Sumber Utama: Abu Rashtah, Atha' bin Khalil. (2006). At-Taisir fi Usul at-Tafsir (Suroh Al-Baqarah - An-Nisa). Beirut: Darul Ummah. (Bab: Al-Lughah al-Arabiyah wa ahammiyatuha).
- Tafsir & Ulumul Qur'an: As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur'an. (Pembahasan tentang Gharaib al-Qur'an dan dialog Ibnu Abbas).
- Hadis: Al-Hakim an-Naisaburi. Al-Mustadrak ala ash-Shahihain & Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Sahih al-Bukhari.
- Leksikografi: Ibnu Faris. Mu'jam Maqayis al-Lughah.
8. FAQ: Pertanyaan Umum
Apakah boleh menafsirkan Al-Qur'an hanya dengan terjemahan?
Tidak diperbolehkan menafsirkan hukum atau makna mendalam hanya bermodal terjemahan, karena terjemahan seringkali tidak mencakup nuansa makna bahasa Arab yang kaya dan spesifik (seperti majaz atau hakikat syar'iyah).
Apa kitab rujukan pemula untuk belajar Usul Tafsir?
Salah satu kitab yang sangat direkomendasikan adalah "At-Taisir Fi Usul Tafsir" karya Syekh Atha bin Khalil Abu Rasytah, karena membahas kaidah tafsir secara sistematis, logis, dan mendalam.
Ingin mendalami ilmu tafsir lebih lanjut?
Jangan lewatkan artikel kami berikutnya tentang Nasikh dan Mansukh dalam Al-Qur'an.
Komentar