Dalam khazanah sejarah peradaban Islam, surat-surat Umar bin Khattab selalu menjadi rujukan utama (masterpiece) dalam tata kelola pemerintahan dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Salah satu momen paling brilian terekam dalam surat beliau kepada Al-Ala bin Al-Hadrami, seorang sahabat Nabi yang ditunjuk menjadi wali (gubernur) menggantikan Utbah bin Ghazwan di wilayah Basrah.
Melalui kajian mendalam terhadap kitab Hayatus Sahabah karya Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi dan At-Tabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa'ad, kita akan menyelami kedalaman visi Amirul Mukminin. Kisah ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan pelajaran tentang etika birokrasi, pengakuan jasa pendahulu, serta pemahaman teologis tentang takdir.
Ilustrasi: Khazanah literatur kepemimpinan Islam masa Khulafaur Rasyidin.
1. Mengenal Sang Penerima Wasiat: Al-Ala bin Al-Hadrami
Sebelum membedah isi surat, penting memahami siapa Al-Ala bin Al-Hadrami. Beliau adalah figur dengan rekam jejak integritas yang teruji (Experience & Expertise):
- Kepercayaan Tiga Pemimpin: Beliau menjabat sebagai Wali sejak masa Rasulullah SAW, dipertahankan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan terus dipercaya oleh Umar bin Khattab.
- Asal Usul: Berasal dari Hadramaut (Yaman) dari Bani Iyad, beliau dikenal sebagai administrator ulung yang mampu mengelola wilayah Bahrain sebelum dimutasi ke Basrah.
2. Etika Pergantian Pemimpin: Adab di Atas Jabatan
Dalam suratnya, Umar memerintahkan Al-Ala untuk berangkat menemui Utbah bin Ghazwan. Perhatikan diksi perintah yang digunakan:
Namun, Umar segera membingkai perintah ini dengan penghormatan tinggi kepada pejabat lama. Umar tidak ingin pejabat baru merasa arogan. Beliau menegaskan kemuliaan Utbah:
3. Alasan Transparan: Bukan Karena Aib
Bagian ini sangat krusial. Seringkali pergantian pejabat menimbulkan fitnah. Umar memotong segala spekulasi dengan menegaskan bahwa Utbah diganti bukan karena korupsi atau ketidakmampuan, melainkan murni strategi kebutuhan umat.
Ini adalah penerapan prinsip The Right Man on The Right Place. Umar mengajarkan bahwa keputusan publik harus didasarkan pada kemaslahatan umum, bukan sentimen pribadi.
4. Hakikat Takdir dan Tujuan Penciptaan
Setelah urusan administrasi selesai, Umar masuk ke nasihat spiritual (Tauhid). Beliau mengingatkan Al-Ala untuk fokus pada "Grand Design" penciptaan dirinya. Umar berkata:
Nasihat ini selaras dengan Hadits Nabi SAW: "Kullun muyassarun lima khuliqa lahu" (Setiap orang akan dimudahkan menuju takdir penciptaannya). Jika Anda ditakdirkan menjadi pemimpin, maka totalitaslah di sana dengan penuh amanah.
5. Waspada Tipuan Dunia yang Fana
Menutup wasiatnya, Umar memberikan peringatan keras tentang hakikat dunia. Beliau menyebut dunia sebagai sesuatu yang "Mudbir" (akan pergi membelakangi kita), sedangkan akhirat adalah tujuan abadi.
Kesimpulan dan Pelajaran Penting
Dari wasiat emas ini, kita mendapatkan standar kepemimpinan yang relevan hingga hari ini:
- Profesionalisme Berbasis Tauhid: Bekerja bukan sekadar karir, tapi memenuhi tujuan penciptaan Allah.
- Budaya Menghargai: Pemimpin baru wajib menghormati jasa pemimpin sebelumnya.
- Transparansi Keputusan: Jelaskan alasan kebijakan (seperti mutasi) agar tidak timbul fitnah.
Referensi:
- Al-Kandahlawi, Syekh Muhammad Yusuf. Hayatus Sahabah. Juz 2, Halaman 367.
- Ibnu Sa'ad. At-Tabaqat Al-Kubra. Juz 4, Halaman 78.
- Dokumentasi Kajian MSH TV (Ma'had Syaraful Haramain), 18 Juli 2021.
Komentar