Di tengah ketidakpastian global, wacana mengenai tatanan dunia baru menjadi topik hangat di kalangan elite global. Namun, apakah solusi yang ditawarkan Barat mampu menjawab krisis kemanusiaan yang terjadi? Artikel ini mengupas tuntas keretakan struktural geopolitik saat ini dan menawarkan blueprint solusi Islam yang terbukti secara historis.
1. Antara Slogan dan Kenyataan: Mengurai Keretakan Struktural Tatanan Global
Dalam forum ekonomi bergengsi di Davos, Mark Carney menyampaikan kritik tajam yang menelanjangi kondisi geopolitik kontemporer. Ia menyoroti fenomena "keretakan struktural" di mana dunia tengah bergeser dari Rule-based Order (Tatanan Berbasis Aturan) menuju Power-based Order (Tatanan Berbasis Kekuatan).
Fenomena ini mencerminkan filosofi Jawa "Asu gede menang kerahe"—siapa yang memiliki kekuatan militer dan ekonomi terbesar, dialah yang memenangkan pertarungan, mengabaikan hukum internasional. Berikut adalah dekonstruksi komparatif atas dua paradigma tersebut:
| Fitur | Rule-based Order (Ideal) | Power-based Order (Realita Saat Ini) |
|---|---|---|
| Prinsip Utama | Menjalankan kesepakatan internasional secara adil dan transparan. | Menggunakan kekuatan ekonomi & militer untuk memaksakan kehendak sepihak. |
| Manifestasi Nyata | Seringkali hanya menjadi slogan diplomatik kamuflase. | Tarif sebagai alat tekan ekonomi, intervensi militer (mis: Venezuela), agresi geopolitik. |
| Peran Militer | Alat penjaga perdamaian kolektif. | Instrumen teror untuk mengintervensi kedaulatan negara lain. |
| Posisi Negara Menengah | Berupaya menjaga ketertiban. | Terjebak dalam "kebohongan global"; patuh karena takut, bukan karena prinsip. |
Realitas pahit ini melahirkan "kebohongan global" di mana negara-negara menengah terpaksa diam terhadap genosida di Gaza demi national interest yang pragmatis.
2. Syariat sebagai Fondasi: Visi Kepemimpinan Islam yang Berbasis Aturan
Islam hadir bukan sekadar membawa ritual, melainkan menawarkan Rule-based Order yang sejati. Visi politik Islam (Siyasah Syar'iyyah) memiliki karakteristik fundamental:
- Berbasis Rahmatan lil 'Alamin: Landasannya adalah Syariat Islam yang fixed (tetap) dan berasal dari Wahyu, bukan aturan manusia yang mudah diintervensi kepentingan oligarki.
- Kedaulatan Hukum: Tujuannya bukan eksploitasi, melainkan ketaatan pada aturan Tuhan yang menjamin kemaslahatan individu, masyarakat, dan negara.
- Transparansi Dakwah: Ambisi Islam adalah penyebaran nilai (Futuhat), bukan penjajahan (Imperialisme).
Simak analisis mendalam mengenai potensi kembalinya tatanan dunia Islam pada video di atas.
3. Andalusia: Paradigma Inklusivitas & Jaminan Sistemik Minoritas
Bukti empiris keunggulan tatanan Islam terlihat pada masa keemasan Andalusia (Spanyol Islam). Di bawah naungan Syariat, toleransi bukanlah jargon, melainkan sistem.
"Kaum Yahudi menikmati masa keemasan mereka (Golden Age) di bawah kepemimpinan Islam." — Karen Armstrong, Sejarawan.
Ini membuktikan bahwa keadilan bagi minoritas dalam Islam adalah jaminan sistemik yang kokoh karena didasarkan pada dalil syara', bukan tergantung pada suasana hati penguasa.
4. Eksplorasi Sejarah: Islam sebagai Pembebas, Bukan Penjajah
Sejarah pembebasan Mesir oleh Amru bin Ash meruntuhkan narasi Islamophobia. Fakta menunjukkan:
- Mesir di bawah Romawi (Nasrani) justru menindas penduduk lokal (Kristen Koptik).
- Suku Koptik beraliansi dengan pasukan Islam untuk menumbangkan Romawi.
- Penduduk lokal menyambut Islam sebagai pembebas dari tirani pajak dan penindasan keyakinan.
Hal serupa terjadi di Polandia dan wilayah lainnya; Islam datang membawa ketertiban, bukan ketakutan.
5. Dua Pilar Peradaban: Ideologi & Institusi Global
Untuk mewujudkan kembali "Rahmatan Lil Alamin" secara praktis, kita tidak bisa hanya bermimpi. Diperlukan sintesa dua komponen:
- Basis Ideologi (Syariat): Aturan yang adil dan anti-kapitalistik.
- Institusi (Khilafah): Wadah eksekutif global. Ideologi tanpa institusi ibarat "jiwa tanpa raga."
6. Epilog: Memutus Rantai Kapitalisme Menuju Keadilan Hakiki
Kritik dari tokoh Barat seperti Mark Carney valid dalam diagnosis, namun gagal dalam solusi karena masih terkurung dalam kerangka Kapitalisme. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan hanya dengan menunggu "Presiden AS yang baik."
Dunia membutuhkan perubahan paradigma: dari Power-based Order menjadi God-based Order (Syariat).
Call to Action untuk Para Pembelajar
Jangan biarkan sejarah hanya menjadi nostalgia. Pelajari kembali struktur tatanan dunia Islam dan jadilah bagian dari solusi intelektual untuk masa depan dunia yang lebih adil.
Sumber Referensi: Tonton Video Lengkap di Sini
Komentar