MabdaHouse

Mengupas Tuntas Talbis Iblis dan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 35-39 Bersama Ustadz Irfan Abu Naveed

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 35-39: Mengungkap Hakikat Talbis Iblis dan Tipu Daya Setan Menurut Ustadz Irfan Abu Naveed

Kajian tafsir Al-Qur'an senantiasa memberikan panduan hidup yang tak lekang oleh waktu. Dalam sebuah majelis ilmu yang membahas Tafsir wa Balaghah, Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I., mengupas secara mendalam tentang hakikat tipu daya (talbis) Iblis terhadap Nabi Adam ‘alaihissalam dan pelajaran krusial bagi umat manusia saat ini. Melalui pembedahan Surat Al-Baqarah ayat 35 hingga 39, kajian ini tidak hanya menggali makna tekstual, tetapi juga menyelami keindahan struktur tata bahasa Arab yang sarat makna.

Hakikat Iblis dan Sumpah Kesesatannya

Untuk memahami tipu daya setan, kita harus merujuk pada asal-usul Iblis sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Iblis sejatinya berasal dari golongan Jin yang fasik dan membangkang terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini direkam jelas dalam Surat Al-Kahfi ayat 50:

إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
"...Kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya..."

Sebagai makhluk yang diberi penangguhan usia hingga hari kiamat (Ila yaumil waqtil ma'lum), Iblis mengikrarkan sumpah serapah di hadapan Allah untuk menyesatkan manusia melalui metode Talbis, yakni menghiasi keburukan seolah-olah menjadi sebuah kebaikan. Dalam Surat Al-Hijr ayat 39, sumpah Iblis ini diungkapkan dengan penekanan tata bahasa yang sangat kuat:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
"Iblis berkata: 'Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya'."

Dari tinjauan ilmu Nahwu, redaksi sumpah Iblis ini menggunakan taukid (penegasan) yang berlapis, yaitu perpaduan Lam Taukid dan Nun Taukid. Struktur gramatikal ini bermakna kesungguhan luar biasa: "Sungguh-sungguh aku akan menghiasi keburukan manusia dan sungguh-sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya."

Ujian di Surga: Analisis Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 35-36

Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam dan Hawa di surga merupakan teguran sejarah yang penuh hikmah. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 35 yang mempersilakan mereka menikmati surga, namun dengan satu larangan tegas:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
"Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim'."

Faidah Bahasa dan Konsep Saddudz Dzari’ah

Kajian ini menyoroti penggunaan kata رَغَدًا (Raghadan), yang merujuk pada kehidupan yang sangat nyaman, nikmat, luas, dan menyenangkan (Hani’an wasi’an thayyiban). Di tengah kenikmatan tersebut, terdapat larangan "Jangan Dekati" (وَلَا تَقْرَبَا).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa larangan mendekati sejatinya adalah bentuk Mubalaghah (penekanan). Kaidah menyebutkan:

النَّهْيُ عَنِ الْقُرْبِ نَهْيٌ عَنِ الْأَكْلِ وَزِيَادَةٌ
"Larangan mendekati adalah larangan memakan, bahkan lebih dari itu."

Ini merupakan penerapan prinsip Saddudz Dzari’ah (menutup celah keburukan). Hakikat larangannya adalah memakan buah terlarang tersebut, namun redaksi Al-Qur'an melarang langkah pendekatannya agar manusia tidak terjerumus.

Meskipun demikian, Talbis Iblis melalui waswasah (bisikan) berhasil menggelincirkan mereka, sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah ayat 36, yang berujung pada dikeluarkannya mereka dari surga menuju bumi sebagai tempat kediaman sementara:

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: 'Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan'."

Wujud Talbis Iblis di Era Modern

Iblis selalu membungkus maksiat dengan kemasan yang memukau. Di zaman modern, talbis ini bermetamorfosis ke dalam berbagai dimensi kehidupan:

  • Ekonomi: Praktik riba dan perjudian (maisir) seringkali dikemas dan dibenarkan dengan istilah investasi, pinjaman produktif, atau sekadar hiburan yang menguntungkan.
  • Politik dan Hukum: Demokrasi yang memberikan hak tasyri' (membuat hukum) kepada akal manusia sering diagungkan sebagai "kebebasan" dan "kedaulatan rakyat". Padahal, membuat hukum tandingan selain syariat Allah adalah manifestasi kezaliman.

Sesuai kaidah, kezaliman adalah "menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya":

وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ

Mengambil hak menetapkan hukum yang mutlak milik Allah dan menyerahkannya kepada manusia adalah bentuk kesyirikan dalam ketaatan (Surat Al-Ma'idah: 45):

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim."

Taubat Nabi Adam dan Keindahan Wazan Fa’aal

Keagungan akhlak Nabi Adam ‘alaihissalam terlihat ketika beliau segera bertaubat usai tergelincir (Surat Al-Baqarah: 37). Kalimat taubat yang diajarkan Allah terekam abadi dalam Surat Al-A’raf ayat 23, memohon ampunan agar tidak menjadi golongan yang merugi:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi."

Dalam menjelaskan ayat ini, Ustadz Irfan membedah kata التَّوَّابُ (At-Tawwab) dari kacamata ilmu Shorof. Kata ini dibentuk menggunakan wazan فَعَّال (Fa’aal) yang merupakan Sighah Mubalaghah. Secara morfologis, wazan ini menunjukkan intensitas dan kuantitas. Maknanya sangat mendalam: Allah Maha Luas penerimaan taubat-Nya, dan terus-menerus berulang kali menerima taubat hamba-hamba-Nya.

Petunjuk (Huda) dan Konsekuensi Hidup di Bumi

Saat manusia diturunkan ke bumi, Allah tidak meninggalkan mereka tanpa arah. Surat Al-Baqarah ayat 38-39 menegaskan janji Allah:

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Kami berfirman: 'Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati'."

Rasa aman yang hakiki (La khaufun ‘alaihim) di dunia dan akhirat hanya bisa direngkuh dengan mengikuti petunjuk (Huda), yakni Syariat Islam. Sebaliknya, mereka yang ingkar dan mendustakan ayat Allah diancam dengan kekekalan di neraka.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."

Tanya Jawab Seputar Gangguan Setan, Sihir, dan Tata Bahasa

1. Perbedaan Sighah Mubalaghah dan Qoshdul Mubalaghah

Sighah Mubalaghah adalah terminologi ilmu Shorof yang menunjukkan makna "sangat" atau "banyak". Adapun pada larangan Laa Taqrabu (jangan dekati), ini bukan perubahan bentuk kata secara shorof, melainkan Qoshdul Mubalaghah (penekanan maksud/hiperbola dalam balaghah) yang melarang segala wasilah atau sarana menuju dosa.

2. Cara Terhindar dari Tipu Daya Setan

Untuk membentengi diri dari Iblis, ada tiga pilar utama:

  • Ikhlas: Iblis sendiri mengakui kelemahannya di hadapan hamba yang mukhlis.
  • Berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah: Sesuai wasiat Rasulullah ﷺ:
    تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ
    "Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya."
  • Menuntut Ilmu (Talaqqi): Kebodohan adalah pintu utama masuknya setan.

3. Realita Sihir dan Gangguan Fisik oleh Jin

Secara dalil, setan mampu membisikkan waswasah dan mengalir dalam aliran darah manusia. Ahlussunnah meyakini sihir memiliki pengaruh yang nyata (Haqiqah). Terkait fenomena materialisasi benda gaib (seperti paku dalam perut akibat santet), tidak ada dalil syar'i spesifik. Seringkali hal tersebut adalah trik sulap (sya'badzah) dukun. Namun, rasa sakit fisik yang dialami korban adalah nyata akibat gangguan jin.

Video Kajian Lengkap Talbis Iblis

Untuk menyimak penjelasan lebih mendalam, berikut adalah rekaman video kajian tafsir yang menjadi rujukan artikel ini:

Kesimpulan

Kisah Nabi Adam dan tipu daya Iblis bukanlah sekadar dongeng masa lalu, melainkan peringatan nyata tentang bagaimana kebatilan terus dikemas secara menarik dari zaman ke zaman. Mari kita tutup dengan doa yang diajarkan untuk memohon keteguhan di atas kebenaran:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan anugerahkanlah kepada kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan anugerahkanlah kepada kami kekuatan untuk menjauhinya."

Wallahu A'lam Bish-shawab.


Sumber

Artikel ini disadur dari kajian tafsir: Video YouTube Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 35-39 oleh Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I.

Komentar