MabdaHouse

Kemuliaan Lailatul Qadar, Nuzulul Quran, dan Esensi Perjuangan Islam di Era Modern

Kemuliaan Lailatul Qadar, Nuzulul Quran, dan Esensi Perjuangan Islam di Era Modern

Jakarta - Bulan suci Ramadan selalu membawa keberkahan dan momentum bersejarah yang tak ternilai bagi umat Islam, di antaranya adalah Nuzulul Quran dan malam Lailatul Qadar. Pemahaman mendalam mengenai malam kemuliaan ini bukan sekadar rutinitas ritualistis, melainkan memiliki akar sejarah dan kaitan yang sangat erat dengan esensi perjuangan dan dakwah di jalan Allah SWT (Fi Sabilillah) hingga konteks tantangan umat di masa kini.

1. Kemuliaan Malam Lailatul Qadar dan Penurunan Al-Qur'an

Allah Tabaraka wa Ta'ala mengkhususkan satu malam di bulan Ramadan yang memiliki kemuliaan luar biasa, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Qadr ayat 1-5. Menariknya, firman Allah menggunakan lafaz ganti nama (dhamir) "hu" dalam ayat Inna anzalnahu (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya) yang merujuk pada Al-Qur'an, tanpa menyebut kata "Al-Qur'an" secara langsung. Ini merupakan gaya bahasa (uslub) yang menunjukkan keagungan kedudukan kitab suci tersebut.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 1-5)

Kata "Lailatul Qadr" bahkan diulang hingga tiga kali dalam surah ini. Dalam ilmu bahasa Arab, pengulangan ini disebut taukidat (penegasan) yang khusus menonjolkan kedudukan malam tersebut.

Perbedaan Proses Turunnya Al-Qur'an

Al-Imam Abu Hilal Al-'Askari dalam Kitab Al-Furuq Al-Lughawiyyah membedakan penggunaan kata turun dalam bahasa Arab. Lafaz 'Anzala - Yunzilu - Inzalan' (أَنْزَلَ - يُنْزِلُ - إِنْزَالًا) bermakna penurunan secara sekaligus, sedangkan 'Nazzala - Yunazzilu - Tanzilan' (نَزَّلَ - يُنَزِّلُ - تَنْزِيلًا) bermakna penurunan secara bertahap.

Al-Qur'an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia tepat pada malam Lailatul Qadar. Dari langit dunia, wahyu ini kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW untuk merespons berbagai peristiwa. Penurunan bertahap ini pertama kali terjadi pada tanggal 17 Ramadan di Gua Hira. Tanggal 17 Ramadan ini kelak juga bertepatan dengan momentum agung lainnya, yakni Perang Badar Al-Kubra.

Segala sesuatu yang disentuh oleh Al-Qur'an niscaya menjadi mulia. Karena turun di suatu malam, malam itu menjadi malam paling mulia. Turun kepada Nabi Muhammad, beliau menjadi Sayyidul Anbiya. Dan turun kepada umat yang mengamalkannya, umat tersebut menjadi sebaik-baik umat (Khairu Ummah).

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

2. Makna "Lebih Baik daripada Seribu Bulan" dan Asbabun Nuzul

Para ulama ahli tafsir merincikan makna kalimat Lailatul Qadr khairun min alfi syahr (لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ). Pendapat pertama menyatakan bahwa amal kebaikan—seperti salat sunah, tilawah, sedekah, dan berdakwah—yang dilakukan bertepatan dengan Lailatul Qadar, pahalanya lebih baik dari amalan serupa selama 1000 bulan (sekitar 83 tahun) di luar malam tersebut. Pendapat kedua menegaskan bahwa malamnya itu sendiri memang sangat mulia. Kedua pendapat ini saling menguatkan.

Keutamaan ini berakar dari asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) yang diceritakan oleh Nabi SAW. Beliau mengisahkan seorang mujahid dari kalangan Bani Israil yang berjuang menenteng senjata di jalan Allah selama 1000 bulan tanpa henti. Mendengar kisah kekuatan fisik yang luar biasa itu, para sahabat takjub. Sebagai bentuk karunia, Allah memuliakan umat Nabi Muhammad yang umumnya berumur pendek dengan anugerah pahala Lailatul Qadar yang nilainya melampaui perjuangan 83 tahun mujahid Bani Israil tersebut.

3. Keutamaan Berjuang dan Berdakwah di Jalan Allah

Meskipun ibadah individual di malam Lailatul Qadar sangat mulia, berjuang di jalan Allah (Fi Sabilillah) menempati kedudukan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan:

مَقَامُ أَحَدِكُمْ سَاعَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ
"Berdirinya (berjuangnya) salah seorang dari kalian sesaat (satu jam) di jalan Allah adalah lebih baik daripada mendirikan qiyam Lailatul Qadar di sisi Hajarul Aswad." (Diriwayatkan secara makna oleh sebahagian ulama seperti Ibnu Al-Mubarak dalam Kitab Al-Jihad)

Ibadah di depan Ka'bah berdampak individual, sedangkan berjuang di jalan Allah membawa kemaslahatan luas bagi masyarakat dan keberlangsungan umat. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa banyak sahabat Nabi tidak menghabiskan sisa hidupnya hanya beribadah di Makkah atau Madinah. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Abbas dan sahabat lainnya justru menyebar berdakwah hingga wafat di Thaif, Mesir, Irak, dan Yaman demi memberikan dampak positif yang nyata bagi peradaban.

Selain medan fisik, menuntut ilmu juga merupakan bahagian mutlak dari Fi Sabilillah, kerana pondasi agama ditegakkan dengan keilmuan, sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW:

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
"Barangsiapa yang keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali." (HR. Tirmidzi)

4. Dua Jenis Jihad dalam Islam: Fisik dan Ilmu Pengetahuan

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam pandangannya membagi jihad menjadi dua jenis utama:

  • Jihad bil yadi was sinan: Perjuangan fisik dengan tangan dan senjata yang bisa diikuti oleh masyarakat luas.
  • Jihad bil hujjati wal bayan: Perjuangan melalui hujah (argumen), penjelasan, dan penyebaran ilmu. Ini dianggap sebagai perjuangan kaum istimewa, para rasul, serta para ulama.

Dalam ranah hujah dan lisan, Nabi SAW menegaskan bahawa seutama-utama jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
"Seutama-utama jihad adalah (menyampaikan) perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Risiko dari langkah ini sangat besar, terbukti dari sejarah sosok seperti Sulthanul Ulama 'Izzuddin bin Abdus Salam yang berani mengoreksi kebijakan keliru seorang Khalifah. Keberanian menyuarakan kebenaran ini dijanjikan pahala seperti pahala penghulu syuhada:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ، فَقَتَلَهُ
"Penghulu para syuhada ialah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan juga seorang laki-laki yang berdiri berhadapan dengan pemimpin yang zalim, lalu dia menyuruhnya (berbuat kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), lalu pemimpin itu membunuhnya." (HR. Al-Hakim)

5. Menjaga Tanah Perjuangan Umat Islam dan Melawan Penjajahan Pemikiran

Sejarah mencatat bahawa kemerdekaan beraqidah di banyak wilayah adalah buah dari perjuangan masa lalu. Mesir, misalnya, dirangkul ke pangkuan Islam melalui perjuangan Amr bin Al-Ash di masa Khalifah Umar bin Khaththab, membebaskannya dari penjajahan Romawi. Stigma negatif terhadap istilah jihad sering kali mengaburkan fakta bahawa nilai ini membebaskan umat dari kezaliman, seperti saat pasukan Nabi membuat gentar pasukan raksasa Romawi di Perang Tabuk.

Konteks Palestina dan Penolakan Terhadap Syiar Jahiliah

Di era modern, narasi perjuangan ini diuji dengan keras. Disoroti bagaimana genosida yang dialami umat Islam di Gaza dan Rafah (Palestina) pada bulan Ramadan terjadi di depan mata dunia. Hambatan solidaritas umat sering kali disebabkan oleh penjajahan pemikiran melalui konsep Nation State (negara bangsa) sekuler, yang mengotakkan persaudaraan Islam dalam batas administratif semata.

Dalam kilas balik Isra Mi'raj di fase 'Amul Huzni, titik tolak kebangkitan Islam bermula dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Hal ini menjadi isyarat kuat bahawa kedua tanah suci ini saling bertaut. Oleh kerana itu, muncul keprihatinan mendalam ketika Jazirah Arab, yang dulunya dibebaskan dengan darah para syuhada seperti keluarga Yasir dan Sumayyah, kini justru dinodai oleh syiar-syiar yang bertentangan dengan syariat, seperti partisipasi dalam kontes kecantikan antarabangsa. Para ulama ditekankan memiliki kewajiban untuk bersuara mengingatkan penguasa, sebab mendiamkan kemungkaran adalah sebuah kesalahan fatal.

Kesimpulan

Malam Lailatul Qadar dan peristiwa turunnya Al-Qur'an bukanlah sekadar peringatan sejarah, melainkan pengingat akan tugas besar umat Islam dalam memperjuangkan kebenaran. Menghidupkan malam mulia ini seyogianya selaras dengan semangat menyebarkan ilmu, melakukan perbaikan sosial (dakwah), serta menolak segala bentuk penjajahan, baik penjajahan fisik seperti yang terjadi di Palestina, mahupun penjajahan pemikiran yang merusak moral dan akidah umat. Setiap jejak perjuangan yang ditinggalkan akan dicatat oleh Allah SWT sebagai amal jariyah yang abadi.

Sumber Referensi:
Video YouTube: Kemuliaan Lailatul Qadar & Keutamaan Jihad
Link Referensi: https://www.youtube.com/watch?v=elBZZynFnIM&t=1s

Komentar