MabdaHouse

Konsep dan Metode Dakwah Islam Ideologis: Meneladani Cara Rasulullah Menghadapi Tantangan Zaman


Dakwah merupakan aktivitas mulia para Nabi dan Rasul yang menempati derajat tertinggi dalam pandangan Islam. Namun, di era modern ini, tantangan dalam menyampaikan risalah semakin kompleks. Memahami konsep dan metode dakwah Islam ideologis menjadi keharusan bagi setiap pengemban dakwah agar tidak kehilangan arah dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam.

Mengusung Islam Ideologis sebagai Target Utama Dakwah

Target sebuah dakwah haruslah tergambar dengan sangat jelas, yaitu menyampaikan Islam yang ideologis. Konsep Islam ideologis bermakna bahwa Islam berbicara tentang seperangkat keyakinan yang senantiasa disertai dengan aturan yang lengkap dan komprehensif.

Islam tidak hanya dibicarakan sebatas hukum teoritis di atas mimbar, tetapi harus berwujud nyata pada tataran praktik. Peraturan yang hanya berwujud teori namun mandul di jalanan merupakan sebuah falsafah belaka. Islam memang mengandung teori yang kuat, namun teori tersebut mutlak harus diiringi dengan praktik pelaksanaannya.

Sebagai contoh praktis, salat adalah kewajiban yang memiliki konsekuensi hukum yang jelas. Seseorang yang meninggalkan salat karena malas memiliki status hukum yang berbeda dengan mereka yang menentang kewajibannya. Demikian pula dengan perbuatan zina yang berstatus haram dan merupakan dosa besar; semua praktiknya diatur secara terperinci. Sayangnya, realitas saat ini menunjukkan banyak pihak yang mendakwahkan Islam sebatas teori, tanpa menggambarkan bagaimana syariat tersebut dapat diterapkan secara paripurna di tengah masyarakat.

Islam: Satu-satunya Jalan Penyelamat Umat

Tujuan hakiki dari dakwah adalah untuk membangkitkan kaum muslimin dari keterpurukan. Para pendakwah wajib memiliki keyakinan yang kokoh dan tidak goyah bahwa hanya dengan Islamlah tatanan alam semesta ini akan stabil dan menjadi lebih baik.

يَجِبُ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا عِنْدَ حَمَلَةِ الدَّعْوَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ لِنَهْضَةِ الْمُسْلِمِينَ... أَنَّهُ لَا نَهْضَةَ إِلَّا بِالْإِسْلَامِ

Terjemah: "Wajib hukumnya menjadi jelas di sisi para pengemban dakwah Islam untuk kebangkitan kaum muslimin... bahwa tidak ada kebangkitan melainkan hanya dengan Islam."

Di saat banyak pihak gencar menuduh pengemban dakwah sebagai ancaman, seorang dai sejati tidak boleh surut ke belakang. Pengemban dakwah adalah para penyelamat peradaban karena risalah yang dibawa adalah syariat Islam yang agung.

Tetap Istiqamah Meski Dihadang Tuduhan dan Fitnah

Menghadapi fitnah dan penolakan dalam berdakwah adalah bagian dari sunnatullah. Sejarah mencatat bagaimana Nabi Musa 'Alaihissalam dituduh sebagai pembuat kerusakan oleh Fir'aun, padahal sumber kerusakan sesungguhnya adalah kezaliman Fir'aun itu sendiri. Ketika dituduh merusak tatanan bumi, Nabi Musa justru semakin yakin bahwa dirinya adalah utusan Allah yang membawa jalan keselamatan.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

Terjemah: "Dan Fir'aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya): 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.'" (QS. Ghafir: 26)

Seiring berjalannya waktu, sejarah dan kenyataan akan menjawab siapa yang sesungguhnya orang-orang saleh pembawa kedamaian, dan siapa pihak teroris sejati yang menebar ancaman, mengintimidasi, serta memanipulasi kebohongan di tengah masyarakat.

Kewajiban Mengikuti Metode (Thariqah) Dakwah Rasulullah

Dakwah bukanlah aktivitas coba-coba yang bisa dikarang sesuai selera zaman. Berdakwah harus meniru secara persis (copy-paste) metode yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam tanpa bergeser walau seujung rambut pun.

وَتُحْمَلُ الدَّعْوَةِ الْإِسْلَامِيَّةُ الْيَوْمَ كَمَا حُمِلَتْ مِنْ قَبْلُ... وَيُسَارُ بِهَا اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ أَنْ يُحَادَ عَنْ طَرِيقَتِهِ قِيدَ شَعْرَةٍ

Terjemah: "Dan dakwah Islam hari ini diemban sebagaimana ia diemban pada masa lalu... dan dijalankan dengan meneladani Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tanpa menyimpang dari metodenya walau sehelai rambut pun."

Metode dakwah ini bersifat baku secara global maupun terperinci. Aktivitas pembinaan umat dan perjuangan ini dilakukan murni dengan pertarungan pemikiran (sira'ul fikri), terbebas dari kekerasan fisik, anarkisme, maupun terorisme. Hal ini juga menegaskan bahwa Nabi tidak mencontohkan jalan dakwah melalui parlemen pemerintahan yang tidak berdasarkan Islam.

Kajian ulang atas metode kenabian dengan dalih zaman telah berubah adalah kekeliruan besar. Objek dakwah dari zaman Quraisy hingga hari ini tetaplah sama: manusia yang lemah, terbatas, dan kelak akan menghadapi hisab. Mundurnya kebangkitan Islam hari ini sebagian besar disebabkan oleh para pendakwah yang meninggalkan metode asli kenabian dan menempuh jalan yang tidak dicontohkan secara syariat.

Kedaulatan Mutlak Syariat dan Pentingnya Institusi Penerap Hukum

Di dunia ini terdapat tiga ideologi besar yang saling bertarung: Komunisme, Kapitalisme, dan Islam. Ideologi Kapitalisme dan Komunisme mampu berjalan secara nyata—meski sering kali merusak alam dan memicu keonaran—karena mereka memiliki kekuatan sebuah negara untuk menerapkan sistemnya.

Nahasnya, Islam sebagai ideologi penebar rahmat dan pemusnah kezaliman saat ini dipisahkan dari institusi negaranya, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Konsep ini murni merupakan syariat Islam, bukan sekadar gagasan sebuah organisasi masyarakat (ormas). Tanpa adanya institusi penerap, hukum Islam akan tereduksi menjadi teori moral semata. Kejahatan tidak dapat dihentikan hanya dengan anjuran dan nasihat tanpa adanya kekuatan hukum yang mengikat.

وَيَقْتَضِي حَمْلُ الدَّعْوَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ أَنْ تَكُونَ السِّيَادَةُ الْمُطْلَقَةُ لِمَبْدَإِ الْإِسْلَامِ

Terjemah: "Dan mengemban dakwah Islam menuntut agar kedaulatan mutlak hanya diberikan kepada ideologi (mabda') Islam."

Menolak Kompromi Penyesatan dan Menjunjung Kejujuran Dakwah

Di tengah pusaran bermacam-macam paham (isme) di masyarakat, seorang dai dilarang bersikap kompromistis demi menghindari konflik intelektual dengan berlindung pada kalimat, "Yang penting kita bersatu, cara kita berbeda tapi tujuan sama." Pernyataan semacam itu keliru. Jalan menuju kemenangan Islam hanya satu: penerapan syariat Islam secara kaffah melalui pembangunan institusi yang berdaulat.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Terjemah: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati." (QS. Al-Baqarah: 159)

Dakwah yang menyembunyikan kebenaran demi mencari posisi aman tidak akan pernah mencapai kemenangan yang dijanjikan. Seperti halnya kesebelasan sepak bola, meski posisinya berbeda-beda di masyarakat, seluruh umat Islam harus memiliki satu instruksi dan target yang jelas demi tegaknya hukum Allah.

Sikap Mutahaddiyan: Keberanian Menantang Kebatilan Intelektual

Bagaimana kemuliaan Islam bisa bersinar jika tidak terjadi benturan pemikiran secara terbuka? Umat Islam, khususnya pendakwah, tidak boleh sekadar berdakwah mengikut arus. Jika arus tersebut adalah kemaksiatan dan sistem sekuler, maka arus itu harus dilawan melalui argumen (hujah) yang kuat, bukan dengan caci maki fisik.

فَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَابَهَ الْعَالَمَ بِرِسَالَتِهِ مُتَحَدِّيًا سَافِرًا مُؤْمِنًا بِالْحَقِّ

Terjemah: "Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menghadapi dunia dengan risalahnya, secara terang-terangan menantang kebatilan (mutahaddiyan), serta penuh keyakinan terhadap kebenaran."

Keberanian menantang kebatilan ini bisa dianalogikan dengan keberanian pembuktian logis yang dilakukan oleh figur seperti 'Pesulap Merah' terhadap praktik perdukunan. Ia sadar bahwa perdukunan mungkin sulit dihilangkan, namun keberaniannya mengambil posisi kebenaran adalah bentuk tanggung jawab yang akan dihisab kelak. Begitu pula para ulama dan dai; mereka harus berani menantang sekularisme, pluralisme, liberalisme, dan demokrasi secara intelektual layaknya petarung di atas ring yang sportif beradu gagasan demi kebenaran sejati.

Kesimpulan: Menjemput Surga Melalui Dakwah Kaffah

Setiap fokus aktivitas dakwah kita harus bermuara pada satu pencapaian strategis, yakni tegaknya syariat Allah secara menyeluruh (kaffah). Dakwah bukanlah ladang untuk mencari popularitas, kekayaan finansial, atau memperbesar jumlah pengikut secara buta.

Mengharapkan surga Allah tanpa melewati gesekan dan rintangan di jalan dakwah adalah sebuah kemustahilan. Surga tidak dicapai dengan bersantai di zona nyaman.

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Terjemah: "Surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci (kesukaran/ujian), dan neraka diliputi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu)." (HR. Muslim)

Jika kita lisan mengucapkan kalimat tauhid Allahu Akbar, buktikanlah keberanian tersebut di tengah medan dakwah dan hadapi hambatannya tanpa rasa takut terhadap celaan manusia. Kesukaran dalam memperjuangkan tegaknya sistem Islam bukanlah hal yang harus dijauhi, melainkan merupakan ujian sunnatullah yang menjadi kunci penentu keselamatan dan kebangkitan umat di dunia maupun di akhirat kelak.

Sumber Referensi:

Video YouTube: Konsep dan Metode Dakwah Islam Ideologis
Link Video: https://youtu.be/3IGuX1fQPQc

Komentar